Hashim menilai rendahnya penerimaan negara disebabkan oleh kurangnya kemauan politik untuk melakukan reformasi. Ia bahkan menyebut birokrasi selama ini cenderung menolak berbagai upaya perubahan.

"Jawabannya adalah kemauan politik. Sampai sekarang tidak ada, Pak Juda (Wamenkeu Juda Agung). Saya harus jujur mengatakan ini. Faktanya rasio penerimaan kita rendah karena tidak ada kemauan politik, menurut pendapat saya dan Presiden Prabowo," ujarnya.

Hashim mengungkapkan, Prabowo menargetkan rasio penerimaan negara meningkat menjadi 18% dalam dua hingga tiga tahun mendatang. Target tersebut setara dengan capaian Kamboja saat ini.