Konsekuensi dari ketidakseimbangan sistem planet ini telah dirasakan di setiap benua. Selama 12 bulan terakhir, manusia telah menyaksikan serangkaian keadaan darurat lingkungan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Di Eropa, banyak negara mengalami musim panas terpanas sepanjang sejarah tahun ini, dengan suhu mencapai 48,4 derajat celcius di Sardinia, Italia. Hal ini memicu kebakaran hutan yang melanda Prancis dan Spanyol, sementara banyak negara masih berjuang mengatasi kekeringan.
Akibatnya bukan hanya kerusakan pada pertanian dan rumah-rumah, tetapi juga hilangnya nyawa. Di Jerman saja, diperkirakan hingga 14.000 orang meninggal akibat gelombang panas tahun 2026.
Banjir monsun yang melanda Pakistan pada 2025 diperkirakan telah memengaruhi lebih dari 6,9 juta orang di wilayah tersebut, karena curah hujan yang tinggi dikombinasikan dengan air lelehan gletser menyebabkan sungai meluap dan memicu kerusakan di hilir.
Peristiwa ini kemudian disusul oleh banjir tragis di Nepal-Tibet baru-baru ini pada Agustus 2026. Runtuhnya gletser di Himalaya memicu banjir bandang yang menghancurkan seluruh komunitas di kawasa itu dan menewaskan sedikitnya 1.300 orang.
"Masyarakat di Nepal membayar dengan nyawa mereka atas krisis yang disebabkan oleh emisi bahan bakar fosil ribuan mil jauhnya," kata Dr. Friederike Otto, seorang profesor ilmu iklim di Imperial College London.
"Ketika pemanasan global menggoyahkan struktur bumi, tidak ada adaptasi lokal yang dapat sepenuhnya melindungi masyarakat rentan di hilir dari skala kehancuran sebesar ini. Tanpa tindakan yang jauh lebih cepat untuk beralih ke emisi bahan bakar fosil nol, kita pasti akan melihat lebih banyak bencana berskala besar seperti ini terjadi di tahun-tahun mendatang," jelasnya.
Dan sayangnya, situasinya diperkirakan akan semakin memburuk, karena para ilmuwan telah mengamati perkembangan 'El Nino super' di lepas pantai timur Amerika. Front cuaca tahun ini diperkirakan akan jauh lebih kuat daripada yang pernah kita lihat dalam beberapa tahun terakhir.