NADIKABAR.COM β Terik matahari membakar kulit para pengendara motor yang antre mengisi bensin di berbagai sudut Pulau Dewata, beberapa waktu lalu. Kesabaran mereka diuji untuk mendapat setetes bensin yang kala itu terasa begitu berharga layaknya sebongkah berlian.
Durasi antrean yang dilalui oleh para pengendara bisa mencapai lebih dari empat jam. Antrean berlangsung hingga rembulan menggantung tinggi di angkasa.
Tak jarang, ketika tiba di pelataran stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), mereka harus menelan pahit lantaran tulisan "stok habis" atau "SPBU tutup" terpampang nyata.
βWaktu itu ada teman yang pakai motor listrik, dia jadi penyelamat kalau ada yang perlu dicari di luar kantor. Sampai bantu cariin pom bensin (SPBU) yang masih jualan,β ujar Rai (55), warga Denpasar, kepada NadiKabar ketika dihubungi dari Jakarta, Minggu (18/10).
Pemandangan berupa antrean panjang pembelian bahan bakar minyak (BBM) itu meramaikan jagat media sejak awal pekan ketiga Oktober sebelum berangsur-angsur terurai pada akhir pekan yang sama.
Kondisi membaik setelah Pertamina melakukan normalisasi distribusi dan pemerintah daerah menerapkan ganjil-genap untuk pembelian BBM bersubsidi.
Rai mengatakan kondisi SPBU di dekat kediamannya yang berlokasi di Nusa Dua, Kuta Selatan, telah berangsur pulih dari antrean panjang sejak Jumat (16/10). Meskipun demikian, Rai mengatakan fenomena antrean panjang pembelian BBM membuat dirinya mulai mempertimbangkan untuk mengganti mobil konvensional menjadi mobil listrik.
Pandangan serupa juga diutarakan oleh Antania (29). Ia mengungkapkan bahwa ketertarikannya untuk mengganti motor konvensional menjadi motor listrik sesungguhnya telah muncul sebelum antrean panjang pembelian BBM terjadi di Bali.
Akan tetapi, setelah krisis BBM memperburuk kemacetan di kawasan Seminyak, Kuta, keinginan Antania untuk membeli motor listrik kian menjadi-jadi.
Antania mengaku sudah melakukan riset kecil-kecilan ihwal penggunaan motor listrik, salah satunya melalui obrolan singkat dengan pengemudi ojek daring yang menggunakan motor listrik.
βDriver-nya rekomen banget, karena teknologinya katanya udah oke banget, dan biayanya kalau dihitung-hitung jauh lebih murah,β kata Antania.
Keuntungan itu juga dirasakan oleh Meliyani (29) selaku pemilik motor listrik. Ia merasa motor listrik lebih hemat apabila dibandingkan dengan motor konvensional, terutama setelah harga BBM nonsubsidi melonjak akibat perang Amerika Serikat (AS) dengan Iran.
Meliyani yang semula menggunakan motor konvensional dan motor listrik secara bergantian, kini lebih sering menggunakan motor listrik untuk menunjang aktivitas sehari-harinya.
βUntuk sekarang ini sangat menguntungkan, sih, motor listrik. Karena BBM lagi mahal, kadang langka, jadi benar-benar kepakai motor listriknya. Dan juga, ya, lebih irit untuk ngecas ketimbang beli bensin,β kata Meliyani.
Berbagai pernyataan tersebut, boleh jadi, tidak bisa mewakili keseluruhan warga Bali. Tapi, pernyataan dari beberapa orang yang diwawancarai itu bisa menjadi contoh bagaimana kendaraan listrik mendapatkan posisi yang unggul ketika terjadi kelangkaan BBM.
Ketika ekosistem kendaraan listrik yang andal bisa diwujudkan, apalagi alasan untuk tidak segera meninggalkan kendaraan konvensional? Karena itu, pemerintah punya tugas untuk menghadirkan ekosistem kendaraan listrik yang andal.