Ade Jona menilai persebaran investasi tersebut menunjukkan semakin terbukanya peluang pertumbuhan ekonomi di berbagai daerah, sehingga aktivitas ekonomi tidak hanya terkonsentrasi di pusat-pusat bisnis yang telah berkembang.

Selain investasi, HIPMI mengapresiasi kinerja pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,11 persen sepanjang 2025, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan sebesar 5,03 persen pada 2024.

Sementara itu, perekonomian nasional tumbuh 5,29 persen secara tahunan pada triwulan II 2026, dengan pertumbuhan semester I 2026 mencapai 5,45 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Menurut Ade Jona, perkembangan tersebut menjadi landasan bagi pemerintah dan dunia usaha untuk terus memperkuat konsumsi domestik, produktivitas industri, perdagangan, serta investasi produktif.

Ia juga mengapresiasi konsistensi pemerintah dalam menjalankan hilirisasi sumber daya alam guna meningkatkan nilai tambah komoditas dalam negeri dan memperkuat struktur industri nasional.

Sepanjang Januari hingga September 2026, realisasi investasi hilirisasi tercatat mencapai sekitar Rp480 triliun atau 31,2 persen dari total investasi nasional pada periode tersebut.

"Kami mendukung arah kebijakan pemerintah yang menempatkan hilirisasi sebagai salah satu prioritas pembangunan ekonomi. Indonesia harus semakin mampu mengolah sumber daya yang dimiliki menjadi produk bernilai tambah," tuturnya.

Ade Jona berharap penguatan hilirisasi semakin memperluas manfaat ekonomi bagi industri nasional, pengusaha lokal, serta tenaga kerja melalui keterlibatan yang lebih besar dalam rantai pasok industri.