NADIKABAR.COM — Hujan mulai berpeluang turun di Papua Selatan pada awal November 2026. Namun, ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah tersebut belum sepenuhnya mereda. Kondisi kering yang berlangsung cukup lama membuat risiko kebakaran masih membayangi, meski hujan mulai diprakirakan datang.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat Papua Selatan menjadi provinsi dengan jumlah titik panas berkepercayaan tinggi terbanyak dalam pemantauan satelit selama 10 hari terakhir. Hingga laporan yang dirilis 5 November 2026, terdeteksi 685 titik panas di wilayah tersebut.
BMKG juga mencatat suhu maksimum harian di Papua Selatan melampaui 37 derajat Celsius pada periode 29 Oktober hingga 1 November. Kondisi panas dan minimnya curah hujan meningkatkan kekeringan vegetasi, sehingga bahan-bahan seperti rumput, daun kering, dan ranting lebih mudah terbakar.
Situasi ini terjadi di tengah pengaruh El Nino dengan intensitas sangat kuat yang berlangsung bersamaan dengan Indian Ocean Dipole (IOD) positif. Kedua fenomena iklim tersebut cenderung mengurangi pembentukan awan hujan di sebagian wilayah Indonesia, terutama bagian selatan khatulistiwa.
Meski demikian, peluang hujan mulai terlihat. Dalam prakiraan cuaca periode 6-9 November, BMKG memperkirakan hujan dengan intensitas sedang berpotensi terjadi di Papua Selatan. Namun, hujan tersebut tidak serta-merta berarti seluruh wilayah sudah memasuki musim hujan.