NADIKABAR.COM — Wakil Ketua MPR RI sekaligus Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) menegaskan pentingnya memastikan program bantuan pendidikan, khususnya Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP Kuliah), tepat sasaran dan benar-benar menjangkau mahasiswa yang membutuhkan.
Hal tersebut disampaikan Ibas saat hadir di Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung, Senin (28/9/2026). Dalam kesempatan tersebut, Ibas menyampaikan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, parlemen, perguruan tinggi, dan pemerintah daerah untuk memastikan akses pendidikan tinggi yang berkualitas dan berkeadilan.
Menurut Ibas, negara perlu hadir membantu anak-anak bangsa yang memiliki kemampuan dan potensi akademik, tetapi menghadapi keterbatasan kemampuan finansial untuk melanjutkan pendidikan.
"Program seperti Kartu Indonesia Pintar Kuliah atau KIP Kuliah ini sangat dinanti dan dimanfaatkan oleh kampus-kampus di Indonesia. Negara harus hadir agar anak-anak kita yang cerdas, mampu, dan memiliki kapasitas tidak kehilangan kesempatan hanya karena keterbatasan fiskal keluarga," ujar Ibas, Kamis (1/10/2026).
Ibas menekankan bahwa persoalan akses pendidikan tidak berhenti pada tersedianya program beasiswa. Implementasi di lapangan juga harus diperhatikan, termasuk persoalan administrasi dan validitas data penerima.
Dia menilai perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan pemerintah pusat perlu membangun sinergi agar mahasiswa yang telah memenuhi persyaratan tidak kehilangan haknya hanya karena persoalan teknis. Menurutnya, diperlukan sosialisasi, pendampingan, serta asistensi yang lebih baik kepada calon penerima maupun mahasiswa penerima bantuan pendidikan.
"Jangan sampai mereka yang sangat mampu secara akademik dan sudah memenuhi persyaratan untuk menjadi mahasiswa, akhirnya terkendala dan putus kuliah karena faktor administrasi teknis," kata Ibas.
Ibas juga menyoroti pentingnya pembenahan data sosial ekonomi dalam penyaluran program pemerintah. Menurutnya, kategorisasi berdasarkan desil dapat menjadi instrumen untuk menentukan kelompok masyarakat yang berhak menerima bantuan. Namun, data tersebut harus terus diperbarui dan divalidasi agar tidak terjadi ketidaktepatan sasaran.
"Desil satu sampai empat itu memang yang berhak. Tetapi persoalannya adalah masih ada data yang belum tervalidasi dan belum dicocokkan dengan kebutuhan di kewilayahan," ujarnya.
Menurut Ibas, persoalan tersebut membutuhkan kerja bersama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan perguruan tinggi.
"Ini tugas kita semuanya. Perlu kolaborasi, perlu sinergi. Sedikit, tetapi membawa dampak," tuturnya.
Pendidikan Gratis Perlu Dikaji Secara Matang
Dalam kesempatan tersebut, Ibas juga membuka ruang bagi gagasan perluasan pendidikan gratis, mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan menengah dan jenjang berikutnya Namun, dia menekankan bahwa gagasan tersebut perlu dihitung secara matang dan berkelanjutan dengan mempertimbangkan kemampuan fiskal negara.
"Harapan untuk pendidikan yang lebih mudah, murah, dan berkualitas adalah harapan besar bagi kita semua. Tetapi tantangannya harus kita pikirkan secara matang. Tidak boleh tergesa-gesa karena ada faktor fiskal dan anggaran yang harus dipikirkan secara berkelanjutan," katanya.
Menurut Ibas, pemenuhan anggaran pendidikan tidak cukup hanya dilihat dari besaran persentase anggaran, tetapi juga harus mempertimbangkan pertumbuhan ekonomi dan ruang fiskal yang tersedia. Dia berharap seiring meningkatnya kapasitas ekonomi Indonesia, akan semakin terbuka ruang untuk memperluas akses pendidikan yang terjangkau dan berkualitas.
Bonus Demografi Harus Dijawab dengan Pendidikan
Ibas juga mengingatkan bahwa Indonesia tengah memiliki modal besar berupa bonus demografi. Jumlah penduduk usia muda yang besar merupakan peluang sekaligus tantangan bagi masa depan bangsa. Karena itu, bonus demografi harus diikuti dengan investasi serius pada pendidikan, kesehatan, keterampilan, dan karakter generasi muda.
"Kita surplus dari sisi jumlah penduduk muda. Tetapi surplus atau bonus itu juga harus kita sikapi. Ada banyak hal yang harus kita pikirkan: kemandirian pangan, kemandirian energi, dan kemandirian pendidikan," ujar Ibas.
Dia menilai program beasiswa seperti KIP Kuliah maupun LPDP perlu dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Kepada sivitas akademika Unpad, Ibas juga mendorong perguruan tinggi untuk terus memperkuat riset yang dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat dan menjadi masukan bagi pembuat kebijakan maupun sektor swasta. Menurutnya, perguruan tinggi memiliki posisi strategis dalam menjawab berbagai tantangan nasional, mulai dari pangan, energi, kesehatan, hingga hukum dan ketatanegaraan.
"Riset yang dilakukan kampus harus bisa diteruskan kepada para pemangku kebijakan maupun sektor swasta dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat," katanya.
Ibas mengapresiasi Unpad yang terus mengembangkan pendidikan dan riset serta membangun kerja sama dengan berbagai perguruan tinggi di dalam maupun luar negeri. Dia berharap Unpad semakin kuat sebagai kampus yang inklusif, berdampak, dan mendunia.
Mahasiswa Tidak Hanya Butuh Ilmu, tetapi Juga Karakter
Di hadapan mahasiswa, Ibas berpesan agar pendidikan tinggi tidak hanya dimanfaatkan untuk memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga untuk membangun karakter, pengalaman, dan kepedulian terhadap bangsa.
"Jangan hanya sekadar belajar ilmu pendidikan di kampus dengan dosen-dosen dan para pakar yang hebat. Tetapi kalian juga harus memperkuat karakter," ujar Ibas.
Dia mengingatkan pentingnya menciptakan lingkungan pendidikan yang sehat, aman, dan saling menghormati, termasuk menjauhi praktik perundungan atau bullying di lingkungan kampus. Menurut Ibas, generasi muda memiliki tanggung jawab besar untuk mengisi masa depan Indonesia.
"Isilah ilmu dan pengalaman kalian untuk memberikan solusi yang terbaik bagi tantangan bangsa ke depan," pesannya.
Pendidikan sebagai Investasi Masa Depan Bangsa
Ibas menegaskan bahwa pendidikan merupakan bagian penting dari upaya mencerdaskan kehidupan bangsa sekaligus membangun kesejahteraan masyarakat. Karena itu, kebijakan pendidikan harus diarahkan untuk memperluas kesempatan, meningkatkan kualitas, dan memastikan tidak ada anak bangsa yang kehilangan masa depan karena keterbatasan akses.
"Kalau negara saja punya tujuan, saya berharap generasi muda kita juga punya tujuan. Tujuannya adalah memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa," ujar Ibas.
Dia mendoakan agar Unpad terus berkembang sebagai institusi pendidikan yang maju, bermutu, berkualitas, dan mampu melahirkan alumni yang memiliki kepedulian serta kemampuan untuk memberikan solusi bagi Indonesia.
Sementara itu, Rektor Universitas Padjadjaran Arief Sjamsulaksan Kartasasmita menyampaikan apresiasi atas perhatian Edhie Baskoro Yudhoyono terhadap pendidikan dan mahasiswa, khususnya dalam memastikan keberlanjutan akses pendidikan bagi mahasiswa penerima KIP Kuliah.
Menurutnya, kehadiran Ibas di tengah sivitas akademika Unpad memberikan semangat dan motivasi bagi mahasiswa untuk terus mengembangkan potensi serta menyelesaikan pendidikan mereka.
"Kami mengapresiasi perhatian dan kepedulian Pak Ibas terhadap pendidikan dan mahasiswa. Kehadiran beliau memberikan motivasi bagi mahasiswa untuk terus belajar, mengembangkan potensi, dan mempersiapkan diri menghadapi masa depan," tutur Arief.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Zahrotur Rusyda Hinduan, Direktur Kemahasiswaan Unpad Inu Isnaeni Sidiq, Kepala Kantor Layanan Kemahasiswaan Afra Hafny Noer, serta jajaran pengelola akademik dan kemahasiswaan di lingkungan Universitas Padjadjaran.
Hadir pula Eso Solihin, Manajer Akademik dan Kemahasiswaan Fakultas Pertanian; Urip Rosani, Manajer Pembelajaran, Kemahasiswaan dan Alumni Fakultas Peternakan; serta Rahmat Sopian, Manajer Akademik dan Kemahasiswaan Fakultas Ilmu Budaya.
Dari kalangan mahasiswa penerima KIP Kuliah, turut hadir Tini Rohmatini dari Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian, Amailawati Tsabita dari Fakultas Peternakan, serta Micela Martina Februarynita Panggabean dari Program Studi Sastra Rusia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran.