Salah satu ciri pembuatan tradisional mie lethek adalah penggunaan tenaga sapi. Alat penggiling berupa batu silinder digunakan dalam proses pengadukan adonan.

Batu penggiling tradisional tersebut memiliki bobot sekitar satu ton. Sapi digunakan sebagai tenaga penggerak untuk membantu proses pengolahan adonan.

Prosesnya berlanjut dengan pengukusan, pengepresan, pencetakan, dan penjemuran. Dalam proses tradisional, pengeringan dilakukan dengan memanfaatkan sinar matahari.

Mie lethek kini tidak hanya dijual dalam bentuk mi mentah. Pemerintah Bantul mencatat adanya inovasi berupa produk siap masak dengan berbagai pilihan rasa.

Salah satu inovasi tersebut dikembangkan Desa Preneur Trimurti. Produk siap masak itu dipasarkan melalui marketplace dan sejumlah toko oleh-oleh di Yogyakarta.

Pada 2026, produk tersebut telah dipasarkan di sekitar 50 toko oleh-oleh Yogyakarta. Pengembangan ini menjadi cara baru mengenalkan mie lethek kepada konsumen yang lebih luas.