NADIKABAR.COM — Setelah kimpul, pemilik akun TikTok black.sheep8208 mulai mengolah mie lethek. Ternyata mie tradisional khas Bantul tersebut punya fakta unik di baliknya.
Pemilik akun TikTok black.sheep8208 sebelumnya populer setelah mengolah kimpul menjadi berbagai makanan. Beberapa waktu lalu, dalam salah satu unggahannya, ia juga menyajikan mie lethek menjadi gimari khas Korea Selatan.
Mie lethek sendiri merupakan mie asal Bantul, Yogyakarta. Proses pembuatannya masih dikerjakan secara tradisional, bahkan menggunakan bantuan hewan.
Uniknya, kuliner ini tetap bertahan di tengah perubahan zaman. Mulai dari warna, bahan, hingga proses pembuatannya menjadi ciri khas keunikan mie lethek.
Mie lethek merupakan kuliner khas Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Sentra produksinya banyak ditemukan di Kapanewon Srandakan, terutama Kalurahan Trimurti.
Nama lethek berarti 'kotor' dalam istilah Jawa. Sebutan itu merujuk pada warna mi yang kecokelatan dan tampak lebih keruh dibanding mi pada umumnya.
Mie lethek juga menjadi bagian dari identitas kuliner Bantul. Pemerintah daerah kini terus mendorongnya sebagai salah satu potensi wisata kuliner.
Mie lethek telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Penetapan tersebut tercantum dalam SK Nomor 362/M/2019 pada 2019.
Dalam daftar WBTb, mie lethek masuk domain Kemahiran dan Kerajinan Tradisional. Status ini menunjukkan bahwa proses pembuatannya memiliki nilai pengetahuan tradisional.
Pemerintah Kabupaten Bantul juga mencatat mie lethek sebagai salah satu potensi budaya daerah. Sentra tradisionalnya tim redaksi lain berada di Dusun Bendo, Srandakan.
Bahan utama mie lethek adalah tepung tapioka dan gaplek. Gaplek merupakan singkong yang dikeringkan sebelum diolah menjadi bahan pangan.
Campuran tersebut membuat warna mie lethek berbeda dari mi yang biasa ditemui. Warnanya cenderung kecokelatan atau keabu-abuan sehingga terlihat kusam.
Direktori Kebudayaan Bantul mencatat penggunaan tepung tapioka dan tepung ketela dalam pembuatan mie lethek. Bahan tersebut kemudian diaduk, dicetak, dipanggang, dan dijemur.
Salah satu ciri pembuatan tradisional mie lethek adalah penggunaan tenaga sapi. Alat penggiling berupa batu silinder digunakan dalam proses pengadukan adonan.
Batu penggiling tradisional tersebut memiliki bobot sekitar satu ton. Sapi digunakan sebagai tenaga penggerak untuk membantu proses pengolahan adonan.
Prosesnya berlanjut dengan pengukusan, pengepresan, pencetakan, dan penjemuran. Dalam proses tradisional, pengeringan dilakukan dengan memanfaatkan sinar matahari.
Mie lethek kini tidak hanya dijual dalam bentuk mi mentah. Pemerintah Bantul mencatat adanya inovasi berupa produk siap masak dengan berbagai pilihan rasa.
Salah satu inovasi tersebut dikembangkan Desa Preneur Trimurti. Produk siap masak itu dipasarkan melalui marketplace dan sejumlah toko oleh-oleh di Yogyakarta.
Pada 2026, produk tersebut telah dipasarkan di sekitar 50 toko oleh-oleh Yogyakarta. Pengembangan ini menjadi cara baru mengenalkan mie lethek kepada konsumen yang lebih luas.