NADIKABAR.COM — Penyelenggaraan Indonesia Creative Week Belgium (ICWB) 2026 menampilkan kekayaan wastra Indonesia yang dipadu dengan kreativitas desainer Belgia.

Program kolaborasi antara KBRI Brussels dan Native Indonesia tersebut diselenggarakan di Antwerpen-Centraal Station, Sabtu (3/10), sebagai bagian dari upaya memperkuat diplomasi publik dan diplomasi kreatif Indonesia di Belgia.

"Budaya adalah jembatan yang mendekatkan masyarakat Indonesia dan Belgia. Melalui Indonesia Creative Week Belgium, kita mempertemukan kekayaan warisan dan kreativitas Indonesia dengan semangat kreativitas Belgia," kata Duta Besar RI untuk Belgia Andy Rachmianto dalam keterangan tertulis KBRI Brussels, Selasa.

Dubes Andi berharap kolaborasi tersebut dapat membuka ruang bagi desainer, seniman, pelaku industri kreatif, dan komunitas kedua negara untuk bertukar gagasan sekaligus memperkuat tali persahabatan antara Indonesia dan Belgia.

Turut hadir dalam acara tersebut Gubernur Antwerp, yang menyampaikan sambutan dan menegaskan pentingnya pertukaran budaya serta kreativitas dalam mempererat hubungan bilateral kedua negara.

Mengusung tema UNRAVEL, program IKATAN Vol. 2 yang merupakan bagian dari ICWB mengeksplorasi kain tradisional seperti dari Toba (Sumatera Utara), Padang Pariaman (Sumatera Barat), dan Tanah Laut (Kalimantan Selatan) sebagai sumber inspirasi bagi para perancang busana muda (emerging designers) asal Belgia.

Salah satu desainer Belgia yang berpartisipasi, Kwale Hakiza, mengungkapkan ketertarikannya terhadap keberagaman tekstil Nusantara yang dinilainya memiliki karakter serta cerita yang unik.

"Sejak 2025 saya telah mengikuti program ini dan saya sangat menyukai kain-kain wastra Indonesia. Setiap kain memiliki karakter dan cerita yang berbeda, sehingga selalu membuka kemungkinan baru dalam proses kreatif saya," ujar Kwale.

Selain peragaan busana kontemporer, salah satu daya tarik utama gelaran tersebut adalah pertunjukan sulam Kapalo Samek asal Padang Pariaman—pemenang penghargaan Kriyanusa 2026—yang diperagakan oleh jajaran diaspora Indonesia, anggota Dharma Wanita Persatuan (DWP), serta staf KBRI Brussels.

Tidak hanya menyaksikan hasil karya, pengunjung juga berkesempatan mengenal lebih dekat proses pembuatannya melalui demonstrasi teknik sulam Kapalo Samek. Sesi tersebut menarik minat pengunjung yang bahkan turut mencoba secara langsung teknik menyulam tradisional tersebut.

Gelaran fesyen kemudian ditutup dengan karya desainer Indonesia Itang Yunasz, yang semakin memperkuat representasi fesyen Indonesia dalam perhelatan tersebut.

Kehadiran Itang Yunasz menjadi momentum untuk memperkenalkan kekayaan wastra Nusantara melalui perspektif desain kontemporer sekaligus memperluas apresiasi terhadap karya desainer Indonesia di tingkat internasional.