Belajar Mandarin dan Mengenal Dunia Industri

Bagi Rechica Sunslye Nanlauda yang masih berusia 18 tahun, kesempatan belajar di Tiongkok menjadi pengalaman untuk mengembangkan kemampuan bahasa sekaligus memperluas wawasan. Sebelum mengikuti program ini, ia pernah belajar bahasa Mandarin melalui kursus di Indonesia, tetapi hanya dalam waktu singkat.

Ketika mengetahui adanya kesempatan belajar Mandarin di Tiongkok, Rechica memutuskan untuk mendaftar. Keputusan tersebut juga mendapat dukungan dari orang tuanya.

“Saya kebetulan pernah ikut kursus bahasa Mandarin sebelumnya, tetapi tidak lama. Ketika ada program ini, saya tertarik untuk ikut. Orang tua juga mendukung,” ujar Rechica.

Selama mengikuti pembelajaran di Tiongkok, ia merasakan perbedaan dalam metode pengajaran bahasa Mandarin dibandingkan dengan pengalaman kursusnya di Indonesia. Menurutnya, metode yang diterapkan saat ini membuat materi lebih mudah dipahami.

“Menurut saya, cara mengajarnya di sini lebih mudah dipahami, jadi saya bisa menangkap materi dengan lebih baik. Tantangan yang masih saya rasakan adalah pelafalan bahasa Mandarin, terutama beberapa huruf yang pengucapannya berbeda dari yang saya bayangkan,” katanya.

Selain belajar di kelas, Rechica dan peserta lainnya berkesempatan mengenal secara langsung lingkungan industri melalui kunjungan ke kawasan industri GEM di Jingmen. Mereka mempelajari berbagai proses pengolahan dan daur ulang sumber daya serta mendapatkan penjelasan mengenai produk dan teknologi yang digunakan dalam industri material energi baru.

Pengalaman tersebut memberikan perspektif baru bagi Rechica mengenai potensi sumber daya Indonesia dan pentingnya kemampuan manusia dalam mengelolanya.

“Setelah berkeliling kawasan industri GEM, saya jadi berpikir bahwa Indonesia sebenarnya kaya akan sumber daya. Kalau masyarakat Indonesia semakin pintar dan mampu mengelolanya dengan baik, mungkin Indonesia juga bisa berkembang seperti Tiongkok,” ungkapnya.