NADIKABAR.COM — Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Asosiasi General Manager Hotel dan Vila Indonesia (IHGMA) Nusa Tenggara Barat, Lalu Kusnawan mengungkapkan okupansi kamar hotel dan vila di destinasi wisata andalan tiga Gili (Trawangan, Meno dan Air) di Kabupaten Lombok Utara meningkat pada akhir 2026.

"Kalau sekarang agak turun, tapi nanti meningkat lagi pemesanannya," ujar Lalu Kusnawan di Mataram, Selasa.

Ia mengakui secara umum, karena tiga Gili didominasi wisatawan mancanegara, periode awal November hingga pertengahan Desember akan mengalami penurunan rata-rata di bawah 50 persen. Namun, memasuki akhir Desember hingga Januari naik kembali karena ada Natal dan tahun baru.

"Dunia pariwisata ini tidak pernah tidur. Jadi target kita tetap 75 persen sebenarnya, tentunya dengan banyak cara. Ada yang menurunkan harga, kemudian menjual bundling kamar dengan aktivitas-aktivitas lain," kata Kusnawan.

Ia menjelaskan pola musiman pariwisata di Gili naik turun pada libur Natal dan Tahun Baru di Desember naik, turun lagi di Februari, namun naik lagi Maret, landai pada April-Juni karena ada momen easter, dan kembali meningkat pada Juli-September yang merupakan musim liburan orang Eropa.

Kusnawan mengatakan pola dampak dari ajang internasional seperti MotoGP di kawasan tiga Gili, baru terlihat dampaknya justru setelah usai MotoGP bukan saat balapan berlangsung.

Menurut dia, saat pembalap dan kru sulit terdeteksi jika berlibur ke Gili karena tidak menggunakan seragam tim. Namun ia meyakini banyak dari mereka datang setelah balapan usai.

"After event itu yang banyak ada pembalap juga, terus ada pembalap yang motortrip juga main ke Gili. Kita nggak bisa deteksi kecuali kalau di-upload di sosial media," ungkapnya.

Bahkan di WSBK dan MotoGP pertama, banyak penonton yang memilih menginap di Gili terlebih dahulu karena penerbangan penuh.

Fenomena serupa terjadi pada MotoGP 9-11 Oktober. Banyak wisatawan domestik yang terlihat berkeliling Gili dengan sepeda pada hari Jumat. Bahkan ada rekan-rekannya yang merupakan wisatawan Indonesia yang memilih menginap 2 malam ekstra di Gili dan terbang kembali dari Bali karena penerbangan di Lombok penuh pada hari Minggu.

"Rata-rata dua malam mereka ekstra menginap, after event. Paling tidak kalau kita berbicara impact pasti ada," tegas Kusnawan.

Menurutnya, jumlah kamar di seluruh gili sebanyak 9.000 kamar, sehingga berdampak pada perputaran ekonomi yang fantastis. Ia menghitung saat kasus air bersih terjadi beberapa waktu lalu dengan asumsi 2.000 orang wisatawan datang di low season, perputaran uang mencapai Rp1,7 miliar per hari.

"Itu low season lho, 2.000 orang. Kalau high season kan 3.500 sampai 4.000 orang per hari," ucapnya.

Meski demikian ia meminta perlunya koordinasi penanganan pariwisata yang lebih komprehensif seperti di Labuan Bajo. Namun dari sisi swasta, menurutnya lembaga yang ada saat ini sudah cukup asal fokus dan tidak tumpang tindih.

"Sekarang BPPD sudah ada, Badan Promosi Daerah di satu sisi, di Dinas Pariwisata kan ada bidang promosi juga. UPT sudah ada. Kalau terlalu banyak lembaga, nanti tumpang tindih," katanya.

Disinggung soal polemik air di kawasan tersebut, Kusnawan memastikan kondisi sudah teratasi. Menurutnya, semua pihak bergerak cepat dan komitmen Gubernur NTB untuk mengawal proses perizinan PDAM menjadi kunci agar kejadian tidak terulang.

"Alhamdulillah kemarin sudah segera diatasi, jadi semua cepat dan semoga ini tidak berulang lagi. Dan harus dikawal ini, karena masih belum final, kan ada proses perizinan yang harus dilalui bertahap oleh PDAM," katanya.