Nico menilai kondisi tersebut berpotensi menjaga yield Treasury dan dolar AS tetap tinggi, sehingga dapat meningkatkan tekanan terhadap aset berisiko, termasuk pasar saham negara berkembang dan rupiah.

β€œNamun, apabila inflasi terus melandai tanpa pelemahan signifikan pada ekonomi AS, The Fed berpeluang menunda kenaikan hingga Desember 2026, yang dapat memberikan ruang bagi sentimen pasar untuk membaik,” ujar Nico.

Dari dalam negeri, cadangan devisa Indonesia mencapai 146,3 miliar dolar AS pada akhir September 2026, atau relatif stabil dari 146,5 miliar dolar AS pada Agustus 2026, namun turun sekitar 10,17 miliar dolar AS dibandingkan sebesar 156,47 miliar dolar AS pada akhir 2025.

Adapun, penurunan dipengaruhi pembayaran utang luar negeri pemerintah dan intervensi BI dalam stabilisasi rupiah, meski tertahan oleh penarikan pinjaman luar negeri serta penerimaan pajak dan jasa.

BI menilai cadangan devisa masih memadai, setara 5,3 bulan impor atau 5,2 bulan impor dan pembayaran utang pemerintah, jauh di atas standar internasional sekitar tiga bulan impor.

Nico menilai stabilnya cadangan devisa di level 146,3 miliar dolar AS menunjukkan ketahanan eksternal Indonesia masih relatif kuat meski terdapat tekanan dari pembayaran utang luar negeri dan stabilisasi Rupiah.

Namun, penurunan sekitar 10,2 miliar dolar AS sejak awal 2026 mengindikasikan adanya tekanan eksternal yang perlu diperhatikan, terutama jika kebutuhan intervensi valas meningkat.