NADIKABAR.COM — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,80% ke level 5.057,05 pada perdagangan Jumat (30/10). Saham ASII (+2,35%), BBCA (+0,81%), dan BBNI (+2,47%) menjadi penopang utama indeks. Sementara itu, BYAN (-4,19%), BREN (-6,99%), dan BRPT (-6,96%) menjadi saham yang paling menekan pergerakan IHSG.
Investor asing mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp172,43 miliar di pasar reguler dan Rp140,27 miliar di seluruh pasar. Dari 11 sektor yang diperdagangkan, sembilan sektor berakhir melemah. Sektor transportasi mencatat penurunan terdalam sebesar 3,13%, sedangkan sektor kesehatan menjadi sektor dengan penguatan tertinggi, yakni 0,76%.
Tekanan juga terjadi di bursa saham Amerika Serikat. Dow Jones turun 1,09% ke level 51.770, S&P 500 melemah 1,82% ke 7.580, sedangkan Nasdaq terkoreksi 2,86% ke level 25.436.
Mulai 2 November, Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi menerapkan kebijakan pengecualian saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi dari perhitungan IHSG. Kebijakan ini berpotensi mempengaruhi komposisi serta bobot saham dalam indeks. Di tengah kondisi tersebut, ETF EIDO turun 1,19%, sementara indeks MSCI Indonesia masih mencatat kenaikan 0,10%.
GOTO mencatatkan laba bersih Rp441,00 miliar pada kuartal III 2026. Dengan capaian tersebut, perseroan telah membukukan laba selama tiga kuartal berturut-turut.
Sepanjang sembilan bulan pertama 2026, GOTO berbalik mencatatkan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp1,16 triliun, dari sebelumnya membukukan rugi Rp776,00 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Bisnis finansial GoPay menjadi salah satu pendorong utama kinerja perseroan. Pendapatan GoPay meningkat 49% secara tahunan menjadi Rp2,30 triliun, sementara laba operasional inti melonjak 304% menjadi Rp550,00 miliar. Kontribusi laba GoPay bahkan telah melampaui bisnis layanan on-demand Gojek dan Tokopedia.
Pertumbuhan tersebut ditopang peningkatan aktivitas transaksi dan penyaluran pinjaman. Pengguna aktif bulanan GoPay tumbuh 26% menjadi 30,40 juta, sedangkan volume transaksi meningkat 86% menjadi 2,80 miliar. Nilai transaksi inti juga naik 96% menjadi Rp187,00 triliun, dengan total pinjaman yang disalurkan mencapai Rp12,05 triliun.
Secara konsolidasi, pendapatan bersih GOTO tumbuh 17% secara tahunan menjadi Rp5,60 triliun. Seiring dengan perkembangan tersebut, perseroan menaikkan target laba operasional inti 2026 menjadi Rp3,50 triliun-Rp3,70 triliun, dari sebelumnya Rp3,20 triliun-Rp3,40 triliun.
WIFI membukukan pendapatan Rp2,96 triliun sepanjang sembilan bulan pertama 2026, tumbuh 192% secara tahunan.