Ia menjelaskan, saham perbankan menjadi motor pemulihan karena memiliki bobot signifikan dalam indeks dan relatif likuid, sehingga perubahan minat beli terhadap saham-saham unggulan dapat memberikan dampak besar terhadap pergerakan IHSG.
Sementara itu, lanjutnya, sektor energi dan pertambangan berpotensi memperoleh dukungan dari dinamika harga komoditas global, sedangkan sektor konsumer dapat menarik minat investor yang mencari emiten dengan permintaan relatif stabil.
βKendati demikian, penguatan sektoral perlu dikonfirmasi berdasarkan data transaksi dan pergerakan harga aktual, mengingat rebound indeks belum tentu diikuti kenaikan yang merata pada seluruh saham,β ujar Nafan.
Nafan menjelaskan, investor global saat ini cenderung masih bersikap cautious atau berhati-hati terhadap pasar saham Indonesia, terutama karena persoalan transparansi kepemilikan saham, keterbukaan informasi free float, dan risiko perubahan klasifikasi Indonesia oleh MSCI.
Lanjutnya, kondisi tersebut mendorong investor asing untuk lebih selektif dalam menentukan eksposur terhadap aset domestik, sembari menunggu bukti konkret bahwa reformasi pasar modal mampu meningkatkan kredibilitas dan aksesibilitas pasar.
Di sisi lain, Ia menyebut investor domestik berpotensi memanfaatkan koreksi tajam untuk melakukan akumulasi secara selektif terhadap saham-saham berfundamental kuat dan memiliki valuasi menarik.