Mengutip riset BRI Danareksa Sekuritas, pelemahan IHSG dipicu aksi wait and see para investor terhadap dinamika global. Salah satu yang memberi sentimen negatif adalah memanasnya konflik Houthi Yaman terhadap Arab Saudi yang ditandai dengan serangan ke Riyadh.

"Geopolitik memanas: serangan Houthi ke Riyadh meningkatkan risiko keterlibatan AS dan eskalasi konflik Timur Tengah, yang dapat mendorong volatilitas harga minyak serta meningkatkan risk aversion investor," tulis riset BRI Danareksa Sekuritas.

Selain itu, pasar juga menanti data inflasi Amerika Serikat (AS), di mana Consumer Price Index (CPI) menjadi katalis utama arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Inflasi yang tinggi berpotensi mempertahankan suku bunga ketat, menopang dolar AS, dan menekan aset emerging market.

Sementara di China, pelaku pasar mencermati data CPI dan neraca perdagangan September yang disebut menjadi indikator permintaan komoditas. Data yang kuat berpotensi mendukung ekspor Indonesia, sedangkan pelemahan permintaan dapat menekan saham berbasis komoditas.