NADIKABAR.COM — Salah satu dampak tsunami yang kurang disadari, setidaknya bagi manusia, adalah bagaimana tsunami dapat membawa spesies ke wilayah yang tidak dikenal, seperti ikan air asin ke perairan tawar.

Sebuah studi tentang 'Dampak Gempa Besar Jepang Timur di 2011' tak hanya mengungkap betapa kacaunya susunan genetika di daerah yang terkena dampak, tetapi juga betapa cepatnya batas-batas spesies lama kembali.

Spesies baru tidak terbentuk dalam semalam. Sebaliknya, terjadi divergensi yang lambat, yang sering kali didorong oleh isolasi geografis. Spesies yang berkerabat mempertahankan kemampuan untuk kawin silang dalam waktu yang lama, seperti yang dibuktikan oleh keberadaan gen Neanderthal dan Denisovan dalam DNA kita sendiri.

Aktivitas manusia sering kali meruntuhkan penghalang geografis antar spesies, misalnya, memindahkan hewan dari satu pulau ke pulau lain, di mana pendatang baru sering kali berbaur dengan penduduk setempat, menghasilkan keturunan hibrida. Karena ini biasanya merupakan proses yang berkelanjutan, peluang untuk memahami seberapa lama suatu peristiwa tunggal dapat bertahan sangatlah jarang.

Untungnya, ada jeda beberapa dekade atau abad antara tsunami, terutama tsunami yang merusak seperti yang melanda Jepang pada 2011. Peristiwa itu menyatukan ikan Gasterosteus nipponicus (ikan laut) dan Gasterosteus aculeatus (ikan air tawar), spesies yang terpisah selama 680 ribu tahun di kolam yang terbentuk akibat tsunami, menyebabkan eksperimen alam yang langka.

Meskipun kolam-kolam yang baru terbentuk awalnya diisi dengan air laut, yang datang bersamaan dengan G. nipponicus, kolam-kolam tersebut terletak di cekungan yang terbentuk akibat kekuatan gelombang dan penurunan tanah, sehingga airnya terisi kembali oleh air hujan. Akibatnya, kolam-kolam tersebut sekarang sebagian besar berisi air tawar.

Dalam studi yang dipublikasikan di Nature Ecology & Evolution ini, peneliti menyebut meskipun G. nipponicus dianggap sebagai ikan laut, mereka menghabiskan sebagian hidup mereka di air tawar, sehingga mereka tidak hanya bertahan hidup di lingkungan baru ini, tetapi juga berkembang biak dengan G. aculeatus yang terbawa oleh gelombang tsunami.