"Ada dua kejutan besar dalam penelitian ini," kata Dr. Takuya Hosoki dan Dr. Jun Kitano dari National Institute of Genetics Jepang, dalam sebuah pernyataan yang dikutip dari IFL Science.

"Pertama, kami tidak menyangka wilayah genom yang terkait dengan penghalang reproduksi utama akan dibersihkan begitu cepat. Kedua, kami terkejut bahwa sebagian besar genom asing terus menghilang selama generasi berikutnya," papar mereka.

Dengan kata lain, bahkan gen G. nipponicus yang tampaknya netral di lingkungan air tawar ini tidak bertahan lama. Perbedaan dengan alel Neanderthal yang tetap ada dalam genom kita selama ribuan generasi sangat mencolok, menimbulkan pertanyaan mengapa kita tidak mengikuti jalan yang sama.

"Pertanyaan penting selanjutnya adalah apakah kombinasi dari beberapa penghalang reproduksi yang kuat dan banyak ketidaksesuaian genetik yang lemah ini merupakan mekanisme umum yang digunakan untuk mempertahankan batas spesies setelah hibridisasi," lanjut Hosoki dan Kitano.

Studi-studi sebelumnya tentang kejadian hibridisasi alami biasanya dimulai jauh setelah peristiwa hibridisasi terjadi, atau dilakukan pada spesies yang berumur panjang, sehingga sulit untuk ditelusuri selama beberapa generasi.

Namun, penelitian ini memberikan kesamaan yang menarik dengan studi tentang ikan G. aculeatus laut di Alaska, yang terangkat oleh gempa besar 1964 ke perairan yang dengan cepat menjadi tawar. Dalam kasus itu, dalam waktu lima puluh tahun, ikan stickleback yang terisolasi tersebut secara genetik berbeda dari ikan stickleback laut.