NADIKABAR.COM — Operator kompetisi I.League tidak menyarankan klub maupun suporter mengajukan banding atas sanksi Komite Disiplin (Komdis) PSSI. Langkah itu dinilai penting agar hukuman yang dijatuhkan dapat memberikan efek jera dan mencegah kericuhan suporter terulang.
Komdis PSSI baru-baru ini menjatuhkan sanksi menyusul sejumlah kericuhan di kompetisi sepakbola Indonesia, baik di Super League maupun Championship.
Di Super League, kericuhan melibatkan suporter Persita Tangerang dan Persija Jakarta. Sementara itu, insiden di Championship melibatkan suporter PSGC Ciamis dan PSIS Semarang.
Dalam materi sanksi tersebut, Persija dan PSIS beserta suporter masing-masing disebut mendapat hukuman berupa denda dan larangan mendampingi tim saat laga tandang. PSGC dan PSIS juga disebut menerima sanksi serupa dalam insiden di Championship.
Sesuai aturan yang berlaku, pihak yang dijatuhi sanksi Komdis PSSI memiliki kesempatan untuk mengajukan banding. Namun, Direktur I.League Ferry Paulus tidak menyarankan langkah tersebut.
"Kami sudah mendorong hampir 3 tahun lebih (suporter away), sehingga PSSI dipantau FIFA untuk memberikan izin untuk bisa dihadiri suporter ke mana saja, diizinkan dengan beberapa catatan untuk yang punya rivalitas menjadi landasan utamanya," kata Ferry Paulus di Jakarta, Rabu (21/10/2026).
Ferry menjelaskan bahwa kuota suporter tim tamu berada di kisaran 10-15 persen. Menurutnya, Persita tidak memiliki masalah terkait alokasi tersebut sehingga Persija mendapat jatah yang cukup besar.
"Alokasi away itu 10-15 persen, Persita tidak ada masalah sehingga Persija mendapat jatah cukup lumayan banyak. Karena tidak ada indikasi. Kami I.League merasa ini penting untuk digarisbawahi. Jika terulang lagi kami dorong sanksi lebih berat," ujarnya menambahkan.
Ferry menegaskan bahwa sanksi yang telah dijatuhkan Komdis PSSI perlu diterima sebagai bahan evaluasi. Ia berharap hukuman tersebut menjadi pengingat bagi klub dan suporter agar insiden serupa tidak kembali terjadi.
Menurutnya, tindakan anarkis tidak boleh menjadi hal yang terus berulang di sepakbola Indonesia. Klub juga diharapkan lebih aktif memberikan edukasi kepada suporternya.
"Bahkan kalau bisa sampai tidak boleh away jika terus mengganggu. Ini early warning untuk menertibkan suporter, untuk klub memberikan edukasi yang sering membuat masalah," ucap Ferry Paulus.
Ferry juga menilai pengajuan banding atas sanksi tersebut kurang tepat. Ia mengingatkan bahwa perilaku kekerasan tidak boleh berkembang menjadi tren di kalangan suporter.
"Sanksi ini diajukan banding, tapi kami sebenarnya merasa itu kurang tepat. Disampaikan bahwa ada tendensi kalo berkelahi terus menjadi tren. Beberapa oknum yang punya indikasi harus dijatuhi sanksi lebih berat," tuturnya.