NADIKABAR.COM — Bacharuddin Jusuf Habibie merupakan presiden ketiga Indonesia dan dikenal karena kecerdasannya di bidang teknologi. Sang anak kenang sosoknya lebih dari itu.
Ilham Akbar Habibie yang juga seorang pakar penerbangan ini mengatakan ada banyak kesalahpahaman mengenai ayahnya dengan penekanan yang fokus hanya tentang teknologi.
"Padahal sebetulnya tidak, yakni juga mendorong demokrasi," kata Ilham saat menghadiri sebuah Lifetime Achievement Awards 2026 di Jakarta, Senin (26/10/2026).
Menurut Ilham, Habibie kerap mengingatkan adanya kaitan erat antara teknologi dengan demokrasi.
"Beliau kerap menekankan ada kaitan erat antara teknologi atau Iptek, dengan demokrasi (moral dan etika). Kita butuh kesinambungan antara Iptek sekaligus menjunjung moral dan etika," imbuhnya.
Dr Ing Ilham Akbar Habibie, Dipl Ing, MBA, yang juga adalah putra sulung dari mendiang BJ Habibie, sering menceritakan soal sosok ayahnya. Misalnya, dalam acara talkshow bersama NadiKabar pada 2022 silam, ia mengenang bagaimana ayahnya mendidiknya. Dia menyebut, ayahnya lebih sering memberi contoh nyata.
"Nilai-nilai yang diberikan kepada saya itu dengan memberikan contoh, tentunya lewat pekerjaan dan karya bapak sendiri. Jadi dari saya kecil, kalau ada waktu saya diajak bapak ke kantornya. Meskipun saya belum mengerti apa-apa waktu itu, bapak memberikan contoh langsung," kisahnya saat menjadi narasumber Eureka! Inspirasi BJ Habibie dan Teknologi Dirgantara, Senin 19 Desember 2022 silam.
Cara Habibie dan Ainun mengajarkan anak-anaknya mengenai ilmu pengetahuan dan kehidupan sosial bukan dengan mendikte dan menjelaskan secara eksplisit, melainkan mengajarkannya lewat contoh yang bisa diikuti oleh anak. Sehingga, anak-anak bisa mengerti dan mempelajari dengan sendirinya.
"Ibu mendidik saya untuk bisa mandiri, bertindak secara lebih matang dan bijak. Bapak memberikan saya prinsip-prinsip dasar dan kalau ada kesempatan, kami diskusi. Secara khusus karena bapak pakar pesawat terbang, dan saya menggeluti bidang yang sama, maka kita banyak juga diskusi secara rinci mengenai teknologinya, industrinya, desainnya, bisnisnya, dan tantangan-tantangan ke depannya," urai Ilham.
Satu hal yang paling diingatnya dari didikan ayahnya, menurut Ilham, adalah bagaimana Habibie selalu mengingatkan untuk berkontribusi pada bangsa dan negara, meskipun mereka tidak tinggal di Indonesia.
"Bapak fokus pada prinsip-prinsip yang makro. Biarpun kita menetap di luar Indonesia, jangan lupa kita ini adalah orang Indonesia. Kita juga harus membantu agar negara dan bangsa kita bangkit, lebih maju, lebih sejahtera, bisa lebih merata dari segi ekonomi, pendidikan, dan sebagainya. Itu selalu ditekankan," sebutnya.
Selain BJ Habibie, ada juga putri Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Yenny Wahid yang hadir mewakili mendiang Ayahanda untuk menerima penghargaan seumur hidup. Ia menegaskan bahwa ayahnya bukan semata-mata pembela kelompok minoritas, melainkan pembela siapa pun yang mengalami ketidakadilan.
"Gus Dur bukan pembela minoritas. Gus Dur adalah pembela orang-orang yang dizalimi. Kalau yang kebetulan dizalimi adalah minoritas, akan dibela. Sampai, bahkan sampai mati," ujar Yenny.
Selain Habibie dan Gus Dur, ada pula William Soeryadjaya yang dianugerahi pencapaian tersebut karena dianggap berkontribusi melalui dunia usaha dan pembangunan industri.
Edwin Soeryadjaya mewakili ayahnya dan berkata bahwa bapaknya selalu mengingatkan pentingnya pesan soal menjaga integritas.
"Satu hal yang ayah kami ingatkan kepada saya, yakni harus memegang integritas. Kami selalu diingatkan agar selalu jujur," tutur Edwin.
Ketiga tokoh tersebut memiliki latar belakang dan jalan pengabdian yang berbeda. B.J. Habibie melalui ilmu pengetahuan, teknologi, dan industri dirgantara; Gus Dur dikenal atas perjuangannya dalam merawat kemanusiaan, toleransi, dan kebhinekaan; sedangkan William Soeryadjaya berkontribusi melalui dunia usaha dan pembangunan industri.