NADIKABAR.COM — Ahli paleontologi menemukan fosil dinosaurus sudah biasa. Untuk pertama kalinya peneliti menemukan sel darah merah di fosil dinosaurus yang berusia jutaan tahun.
Dalam studi yang diterbitkan di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences, tim paleontolog internasional mengonfirmasi adanya biomolekul utuh dan sel darah merah yang termineralisasi di dalam fosil dinosaurus berusia 115 juta tahun.
Meskipun penelitian sebelumnya mengindikasikan kemungkinan serupa, hasil riset tim peneliti ini menandakan pertama kalinya identifikasi secara kimiawi senyawa darah pembawa oksigen yang dikenal sebagai heme.
"Ini adalah penemuan yang benar-benar penting," kata Kliti Grice, salah satu penulis dan ahli kimia dari Curtin University di Australia, seperti dikutip dari PopSci, Rabu (4/11/2026).
"Temuan ini menantang asumsi lama bahwa biomolekul tertentu seperti hemoglobin tidak dapat bertahan dalam jangka waktu yang sangat lama," sambungnya.
Bukti sel darah merah ini ditemukan di fosil tulang anggota tubuh Aratasaurus museunacionali muda. Ditemukan pada tahun 2008, A. museunacionali merupakan dinosaurus theropoda dari periode Early Crutaceous yang hidup di wilayah yang kini menjadi bagian timur laut Brasil.
Fosil-fosil tersebut menunjukkan dinosaurus dengan panjang sekitar 3 meter dan bobot sekitar 34 kilogram. Namun, mengingat usianya yang masih sangat muda, A. museunacionali kemungkinan besar dapat tumbuh jauh lebih besar lagi.
Setelah memeriksa irisan tipis fosil dinosaurus tersebut secara seksama, para ahli menemukan komponen molekular sel darah merah yang telah mengalami mineralisasi, serta senyawa kompleks mangan oksida yang disebut hausmannite.
Material ini membantu mempertahankan struktur heme, molekul berbentuk cincin yang mengandung zat besi dan mengikat banyak protein, terutama hemoglobin.
Hausmannite juga membantu mengawetkan molekul lainnya yang terdapat dalam darah, seperti asam amino di kolagen. Penulis studi ini berteori bahwa tingkat pengawetan seperti ini hanya dapat terjadi setelah penguburan yang cepat di lingkungan yang kaya akan mikroba, tapi rendah oksigen.
Grice dan koleganya menyatakan penemuan mereka memiliki dampak yang lebih luas bagi paleontologi di tingkat molekuler. Penelitian lebih lanjut mungkin dapat membantu pemahaman kita mengenai evolusi darah, metabolisme dinosaurus, dan tingkat aktivitas hewan purba.