“Jadi ketika panen menyusut karena El Nino, penggilingan saling berebut gabah yang terbatas sehingga harga gabah naik dan harga beras di pasar juga ikut naik,” kata Afaqa.
Kedua, ia menjelaskan volume intervensi pemerintah melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) masih relatif kecil.
Ia menyebutkan penyaluran SPHP pada Oktober 2026 tercatat hanya 123 ribu ton atau kurang dari sekitar lima persen perkiraan kebutuhan konsumsi beras nasional dalam sebulan.
Ketiga, Afaqa menyebutkan terdapat kebocoran distribusi berupa praktik pengemasan ulang beras SPHP menjadi beras premium untuk dijual dengan harga lebih mahal. Praktik tersebut membuat sebagian beras bantuan tidak sampai kepada konsumen sesuai harga yang ditetapkan.