Sebagaimana diketahui, aktivitas digital terus menghasilkan data dalam jumlah besar, dari transaksi perbankan, belanja online, layanan digital hingga aktivitas bisnis. Namun, data tidak otomatis menciptakan nilai. Data perlu diproses, disimpan, dan diakses melalui infrastruktur komputasi.
Untuk itu, data center dibutuhkan dalam melayani cloud, fintech, e-commerce, AI, cybersecurity, layanan pemerintah digital, hingga berbagai bisnis teknologi berjalan dalam skala besar.
Pemerintah mencatat minat investasi tambahan sekitar 1,3 GW data center di Indonesia, dengan nilai mencapai US$15-20 miliar. Setiap tambahan 100 MW merepresentasikan sekitar US$1,2-1,5 miliar investasi.
Investasi tersebut tidak berhenti pada pembangunan fasilitas. Aktivitasnya menciptakan kebutuhan terhadap konstruksi, energi, jaringan, teknologi, pemeliharaan, dan tenaga kerja terampil, sekaligus memperluas aktivitas ekonomi dan basis penerimaan negara.
Sebagai gambaran, di Chile data center dapat menjadi penggerak ekonomi yang lebih luas. Investasi AWS lebih dari US$4 miliar untuk tiga data center diperkirakan pemerintah Chile menghasilkan sekitar US$10 miliar kontribusi terhadap GDP dan mendukung lebih dari 7.000 lapangan kerja penuh waktu setiap tahun.
Hal itu mengindikasikan manfaat data center bukan hanya soal kapasitas komputasi, tetapi juga seberapa jauh investasi tersebut menciptakan pekerjaan, menggerakkan rantai pasok, dan membangun kemampuan digital di suatu negara.