Kebutuhan komputasi kini semakin besar seiring perkembangan AI. Jika fase awal digitalisasi berfokus pada konektivitas, fase berikutnya membutuhkan komputasi skala besar, GPU, cloud, jaringan, listrik, dan data center.

Pasar digital yang besar tidak otomatis membuat Indonesia menjadi pemenang, yang menentukan adalah kemampuan mengembangkan teknologi dan mengolah data menjadi produk dan layanan bernilai tambah.

Persaingan untuk membangun kapasitas tersebut pun semakin terlihat di Asia Tenggara. Data Bank Dunia pada semester pertama 2025 mencatat total kapasitas data center Indonesia sekitar 1,17 gigawatt (GW), dibandingkan Malaysia 3,17 GW dan Singapura 1,25 GW. CSIS Indonesia memperkirakan kapasitas Indonesia dapat tumbuh 16,8 persen per tahun hingga 2029, mencapai sekitar 1,41 GW.

Namun, ekspansi data center menuntut perhatian serius terhadap konsumsi energi dan air. Selain menyerap daya listrik yang sangat besar, fasilitas ini juga membutuhkan pasokan air tergantung pada teknologi pendingin yang digunakan.

"Energi dan teknologi Artificial Intelligence (AI) akan menjadi pilar penting dalam pembangunan. Bahkan AI sendiri membutuhkan energi yang sangat besar untuk dioperasikan," ujar Peneliti ITB Reini D. Wirahadikusumah.

Indonesia pada dasarnya memiliki modal kuat untuk membangun ekosistem AI, mulai dari potensi pasar digital, lonjakan kebutuhan komputasi, hingga ketersediaan sumber daya energi. Kunci utamanya adalah mengelola keunggulan tersebut agar efisien dan berkelanjutan sehingga bernilai tambah bagi perekonomian nasional.