Selanjutnya, pada Agustus 2026, Airlangga menerima kunjungan Menteri Federal Jerman untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan Reem Alabali-Radovan bersama delegasi pemerintah, anggota parlemen Bundestag, serta perwakilan sektor keuangan dan bisnis.
Dalam pertemuan itu, kedua pihak menjajaki pemanfaatan keahlian Jerman di bidang teknologi dan pembiayaan untuk mendukung sejumlah proyek di Indonesia, termasuk energi terbarukan, infrastruktur kelistrikan, ekosistem kendaraan listrik dan baterai, semikonduktor, infrastruktur digital, serta pembiayaan berkelanjutan.
Airlangga menambahkan bahwa Jerman bersama Jepang berperan sebagai salah satu pemimpin bersama International Partners Group (IPG) dalam kemitraan transisi energi Indonesia melalui Just Energy Transition Partnership (JETP).
Kemitraan tersebut menjadi salah satu platform untuk mempercepat investasi dan pembiayaan dalam mendukung transisi energi bersih Indonesia, dengan komitmen pendanaan lebih dari 20 miliar dolar AS (sekitar Rp358 triliun).
Selain sektor industri dan energi, Indonesia juga melihat potensi besar untuk memperluas kerja sama pendidikan vokasi dan peningkatan keterampilan tenaga kerja.
"Kami juga melihat potensi kuat untuk memperdalam kerja sama dalam pendidikan vokasi dan pengembangan keterampilan, termasuk peluang bagi tenaga kerja terampil Indonesia untuk berkontribusi dalam perekonomian Jerman," ujarnya.
Airlangga menyebut Jerman merupakan salah satu mitra ekonomi dan industri penting bagi Indonesia. Nilai perdagangan bilateral kedua negara mencapai sekitar 6,11 miliar dolar AS (sekitar Rp109,4 triliun) pada 2025, sementara akumulasi investasi Jerman di Indonesia selama 2021 hingga kuartal I 2026 tercatat lebih dari 1 miliar dolar AS (sekitar Rp17,9 triliun).