Airlangga juga mempertanyakan sikap MSCI yang tidak menyinggung kemungkinan perubahan status pasar Indonesia dalam pertemuan di Thailand. Pertemuan di Bangkok melibatkan pimpinan MSCI, bukan sekadar analis.

"Kenapa sudah ketemu di Thailand kemarin nggak bicara masalah ini? Ini kan ada tanda tanya besar. Kemarin di Thailand kok nggak ngomong yang ini? Padahal yang kemarin itu seminggu juga belum," tegasnya.

Bukan cuma Airlangga yang kaget, pihak BEI juga tak menyangka MSCI memberikan pengumuman mendadak. Direktur Pengembangan BEI, Iding Pardi, mengatakan hasil peninjauan indeks MSCI seharusnya diumumkan pada 12 November. Pengumuman yang mendadak ini mengejutkan pelaku pasar.

"Kami juga terus terang surprise, banyak pihak surprise, yang pelaku pasar juga surprise. Kok bisa jauh lebih awal ya biasanya kan seminggu atau dua minggu dengan final announcement itu di November kan di awal November, 12 November kalau gak salah. Nah ini lebih awal hampir sebulan sebelumnya itu terus terang di luar perkiraan kami juga," ungkap Iding kepada wartawan di Gedung BEI.

Iding menjelaskan, dalam pertemuan di Bangkok lalu, MSCI sama sekali tak membahas reklasifikasi status pasar saham modal Indonesia. Pertemuan itu lebih membahas tentang kebijakan fiskal, moneter dan reformasi BUMN.

"Satu pertanyaan mengenai MSCI, ya memang kita memberikan kesempatan untuk masing-masing pihak, termasuk MSCI. MSCI sewaktu itu mempertanyakan mengenai yang tadi saya sampaikan efektivitas dan enforcement gitu aja, jadi tidak ada signal gitu ya, bahwa oh ini ada kemungkinan di Standalone Market," terangnya.

Meski begitu, Iding mengatakan Standalone Market bukanlah tingkatan terendah dalam klasifikasi pasar MSCI, melainkan kategori tersendiri bagi pasar yang memerlukan perhatian khusus. "Itu adalah klasifikasi khusus kalau memang market itu perlu mendapatkan perhatian khusus. Jadi bukan berarti terendah," jelasnya.

Meski bukan kategori terendah, perubahan status itu tetap bisa memengaruhi posisi saham Indonesia dalam indeks acuan investor global. Indonesia akan masuk kelompok pasar yang terpisah dari klasifikasi Emerging Market, bersama negara-negara seperti Argentina, Jamaika, Panama, Lebanon, Nigeria, Palestina, Ukraina, dan Zimbabwe.