NADIKABAR.COM — Pasar modal Indonesia mendapat kejutan pada perdagangan kemarin. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk lebih dari 8% sejak pembukaan hingga memaksa Bursa Efek Indonesia (BEI) menerapkan trading halt. Tekanan jual terus berlanjut sampai perdagangan ditutup, IHSG anjlok 11,57% ke level 5.185,11.

Pemicunya adalah pengumuman mendadak Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang membuka opsi menurunkan status pasar modal Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.

Pengumuman itu terasa seperti prank. Sebab, baru sepekan sebelumnya, pejabat pemerintah bersama BEI, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Danantara bertemu dengan pimpinan MSCI di Bangkok, Thailand.

Dalam pertemuan tersebut, isu penurunan status ke Standalone Market tidak dibahas. Lebih mengejutkan lagi, pengumuman yang diperkirakan baru keluar pada November justru muncul pada Oktober.

Dalam keterangan resminya, MSCI menyatakan akan mempertimbangkan reklasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Langkah ini didasari kekhawatiran yang berkelanjutan mengenai aksesibilitas investasi dan tata kelola pasar.

Pelaku pasar global menilai struktur kepemilikan saham Indonesia masih belum transparan, ditambah kekhawatiran mengenai dugaan aktivitas perdagangan yang terkoordinasi.

Keputusan final dijadwalkan paling lambat 30 Juni 2027, setelah periode konsultasi berakhir pada 30 April 2027. Sementara itu, MSCI tetap membekukan sejumlah perubahan indeks Indonesia, termasuk kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS).

MSCI juga tidak akan menambahkan saham Indonesia ke MSCI Indonesia Investable Market Index (IMI) maupun menaikkan saham ke segmen indeks berdasarkan kapitalisasi pasar. Saham yang teridentifikasi memiliki konsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC) tetap akan dikeluarkan.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengakui pengumuman tersebut datang lebih cepat dari perkiraan pemerintah. "Kan sebetulnya mereka menjanjikannya di bulan November, tapi ini di Oktober," ujarnya saat ditemui di kantornya, Jakarta Pusat, Jumat kemarin.