Adapun salah satu rangkaian kegiatan ASCOPE adalah Exploration and Production Task Force (EPTF), yang mempertemukan pemangku kepentingan dari 11 negara ASEAN dalam pembahasan pelaksanaan, pengaturan, dan perencanaan kegiatan operasi hulu migas.

Kolaborasi tersebut juga sejalan dengan upaya peningkatan kegiatan eksplorasi di Indonesia. Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menargetkan potensi sumber daya sebesar 2,6 miliar barel setara minyak (BBOE) dari kegiatan eksplorasi pada 2026.

"Indonesia menawarkan portofolio peluang yang beragam bagi investor dengan strategi dan tingkat toleransi risiko yang berbeda-beda," ujar Deputi Eksplorasi, Pengembangan, dan Manajemen Wilayah Kerja SKK Migas Rikky Rahmat Firdaus.

Menurutnya, sebanyak 12 sumur berpotensi tinggi atau high impact diproyeksikan mencakup sekitar 80% dari target sumber daya sebelum pengeboran (pre-drill resource target), dengan potensi sekitar 2,2 BBOE. Berdasarkan data SKK Migas, lima dari 12 sumur high impact tersebut dikelola oleh Pertamina melalui sejumlah entitasnya.

Kelima sumur tersebut meliputi Besar-1 yang dikelola Pertamina East Natuna (PEN), Banyu Geni-01 dan Wijaya Kusuma-1 yang dikelola Pertamina EP (PEP), Padang Pancuran-002 yang dikelola PEP, serta Tingkilan-1 yang dikelola Pertamina Hulu Energi Lepas Pantai Bunyu (PHE LPB).