Subsektor lain yang tumbuh lebih cepat dari industri nonmigas secara keseluruhan pada triwulan III 2026:- industri furnitur: 12,68%, berbalik dari minus 4,34% setahun sebelumnya- industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki: 9,75%- industri kimia, farmasi, dan obat tradisional: 8,10%- industri pengolahan lainnya, termasuk jasa reparasi dan pemasangan mesin dan peralatan: 7,01%- industri tekstil dan pakaian jadi: 6,22%- industri alat angkutan: 6,14%

Menurut Sarmuji, ini menunjukkan pertumbuhan industri tidak hanya bergantung pada satu sektor, tetapi didukung banyak jenis industri yang mampu menciptakan nilai tambah dan memperluas pasar.

Industri pengolahan, termasuk migas, tetap menjadi penyumbang terbesar produk domestik bruto (PDB). Pada triwulan III 2026, porsinya mencapai 19,22%, naik dari 18,50% pada triwulan sebelumnya dan 19,15% pada triwulan III 2025. Nilainya mencapai Rp1.295,5 triliun (atas dasar harga berlaku).

"Kontribusi industri pengolahan yang mencapai 19,22% terhadap PDB nasional menunjukkan bahwa manufaktur tetap menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia," ungkap Sarmuji.

Sarmuji menegaskan, capaian ini harus dimanfaatkan untuk memperkuat kebijakan industri. Pemerintah perlu memastikan bahan baku tersedia, pasokan energi kompetitif, dan kepastian berusaha terjaga, serta mendukung peningkatan produktivitas.

Selain itu, pemerintah mendorong investasi produktif, pendalaman struktur industri, penggunaan produk dalam negeri, serta daya saing IKM dan kemitraannya dengan industri besar.