NADIKABAR.COM — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Barat mencatat inflasi Jawa Barat pada September 2026, berada di level 0,23 persen secara bulanan (month to month/mtm) yang utama dipicu oleh komoditas cabai rawit dan beras.
Kepala BPS Provinsi Jawa Barat Margaretha Ari Anggorowati di Bandung, Kamis mengungkapkan dampak musim kemarau panjang yang memicu serangan hama patek dan kekeringan di sentra produksi, berimbas pada keterbatasan pasokan cabai rawit dan beras, hingga mendorong inflasi tersebut.
"Musim kemarau panjang berdampak pada keterbatasan pasokan cabai rawit dan beras. Di sisi lain, peningkatan permintaan pasar turut mendorong kenaikan harga daging ayam ras dan telur ayam ras," kata Ari.
BPS mencatat kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau menjadi pendorong utama inflasi bulanan dengan memberikan andil sebesar 0,16 persen. Namun demikian, kata Ari, ada aspek pembiayaan lain yang memberikan dampak pada inflasi.
"Kenaikan biaya kuliah di awal tahun ajaran baru perguruan tinggi juga memberi andil terhadap inflasi," ujar Ari.
Secara akumulatif, inflasi tahun kalender (year-to-date/ytd) Jabar menembus 2,10 persen dan inflasi tahunan (year-on-year/yoy) berada di angka 3,16 persen.
Margaretha merinci komoditas utama penyumbang inflasi bulanan meliputi cabai rawit (0,05 persen), daging ayam ras (0,05 persen), telur ayam ras (0,05 persen), emas perhiasan (0,03 persen), serta bensin (0,02 persen).
Sebaliknya, laju inflasi tertahan oleh komoditas ketimun yang mengalami deflasi 0,03 persen dan bawang merah sebesar 0,02 persen berkat panen raya.
Secara spasial, Kabupaten Bandung dan Kota Tasikmalaya mengalami tekanan inflasi bulanan tertinggi masing-masing sebesar 0,39 persen dan 0,37 persen, sedangkan Kabupaten Subang mencatatkan inflasi terendah di level 0,03 persen.