6. Berhenti merokok dan hindari alkohol

Kebiasaan merokok dapat berdampak buruk pada kesehatan reproduksi perempuan maupun laki-laki. Paparan zat kimia dalam rokok berkaitan dengan gangguan kesuburan dan berbagai risiko selama kehamilan.

Alkohol juga sebaiknya dihindari ketika merencanakan kehamilan, terutama bagi perempuan yang mungkin sudah hamil tetapi belum mengetahuinya. Tidak ada jumlah alkohol yang diketahui aman selama kehamilan.

Pasangan juga sebaiknya menghindari penggunaan narkoba dan berkonsultasi mengenai obat-obatan yang sedang dikonsumsi. Jangan menghentikan obat resep secara tiba-tiba tanpa arahan dokter.

7. Kelola stres dan cukupi waktu istirahat

Menjalani promil terkadang menimbulkan tekanan emosional, terutama ketika kehamilan belum terjadi sesuai harapan. Kondisi ini dapat membuat pasangan merasa cemas dan terbebani setiap kali menjalani hubungan seksual.

Mengelola stres melalui aktivitas yang menyenangkan, olahraga ringan, tidur cukup, atau berbicara terbuka dengan pasangan dapat membantu menjaga kesejahteraan emosional selama promil.

Stres bukan satu-satunya penyebab sulit hamil, dan seseorang tidak seharusnya menyalahkan dirinya sendiri ketika kehamilan belum terjadi. Gangguan kesuburan dapat melibatkan berbagai faktor biologis pada perempuan maupun laki-laki.

Karena itu, promil sebaiknya dijalani sebagai upaya bersama, bukan menjadi beban salah satu pihak.

8. Periksa kesehatan reproduksi kedua pasangan

Pemeriksaan kesehatan sebelum hamil dapat membantu mengidentifikasi kondisi yang berpotensi memengaruhi kesuburan. Perempuan dapat berkonsultasi mengenai siklus menstruasi, riwayat penyakit, obat yang digunakan, dan kondisi reproduksi.

Laki-laki juga perlu memperhatikan kesehatan reproduksinya. Jika terdapat dugaan gangguan kesuburan, dokter dapat menyarankan pemeriksaan sperma untuk menilai jumlah, bentuk, dan pergerakan sperma.

Pemeriksaan lebih awal dapat dipertimbangkan apabila salah satu pasangan memiliki riwayat gangguan reproduksi, menstruasi tidak teratur, endometriosis, atau masalah kesehatan lain yang berpotensi memengaruhi kehamilan.

Dengan mengetahui kondisi masing-masing, pasangan dapat menentukan langkah promil yang lebih tepat berdasarkan rekomendasi medis, demikian mengutip CDC dan beberapa sumber lain.