NADIKABAR.COM — Sosok yang dikenal melekat dengan pelestarian alam dan dijuluki 'Bapak Gajah' itu resmi memboyong pengabdiannya ke Ibu Kota. Setelah hampir dua tahun mengabdi di Provinsi Riau, Komjen Herry Heryawan kini kembali ke Jakarta menyandang jabatan baru sebagai Kepala Badan Pemeliharaan Keamanan (Baharkam) Polri.
Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto resmi melantik Herry Heryawan dan sejumlah pejabat utama (PJU) Mabes Polri dan Kapolda lainnya, di Mabes Polri, Jakarta Selatan, pada Sabtu (3/10/2026) malam. Pelantikan tersebut sekaligus menandai kenaikan pangkat perwira tinggi Korps Bhayangkara tersebut menjadi Komisaris Jenderal (Komjen) Polisi atau jenderal bintang tiga.
Namun di balik kabar membanggakan atas promosi jabatan tersebut, terselip rasa kehilangan yang mendalam dari masyarakat Bumi Lancang Kuning. Masyarakat Riau mengingatkan Komjen Herry agar tidak melupakan gajah-gajah Sumatra yang selama ini menjadi perhatiannya.
Bukan tanpa sebab warga Riau merasa kehilangan sosok Herry Heryawan. Lulusan Akpol 96 itu dikenal sebagai sosok polisi yang lekat dengan pelestarian alam dan ekosistemnya, termasuk gajah Sumatra.
Berdasarkan catatan Jikalahari, saat ini hanya tersisa 216 ekor gajah yang ada di Riau. Sepanjang 2006-2026 Jikalahari juga mencatat sedikitnya ada 77 ekor gajah yang ditemukan mati di Riau.
Konfliks antara gajah dan manusia menjadikan hewan mamalia terbesar ini terus berkurang populasinya. Perambahan hutan yang menjadi rumah gajah turut menyumbangkan degradasi populasi gajah.
Persoalan ini terbaca oleh Komjen Herry Heryawan. Saat dilantik pada Maret 2025, perwira tinggi (pati) Polri kelahiran 23 Februari 1972 ini membuat gebrakan dengan menggaungkan Green Policing.
Green Policing merupakan sebuah pendekatan kepolisian modern yang mengintegrasikan aspek pemeliharaan keamanan dengan kelestarian lingkungan hidup. Ada tiga poin utama dalam program inovasi Komjen Herry tersebut, yakni preventif: dengan melakukan edukasi dan sosialisasi terkait lingkungan termasuk mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla); represif: penegakan hukum terhadap pelaku kejahatan lingkungan dan karhutla; dan restorasi: pemulihan dengan melakukan sejuta pohon untuk mengembalikan lingkungan yang telah dirusak olah tangan-tangan manusia.
Program tersebut disosialisasikan secara masif di lingkungan pendidikan mulai dari TK, SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi, akademisi serta aktivis lingkungan. Semasa menjabat sebagai Kapolda Riau, Komjen Herry Heryawan menggandeng pelajar dan mahasiswa sebagai pelopor dalam gerakan kepedulian lingkungan.
Upaya tersebut dilakukan untuk menanamkan nilai-nilai positif dengan mengajak masyarakat untuk berperan secara aktif mencegah terjadinya karhutla dan kerusakan lingkungan lainnya dengan pendekatan kolaborasi. Sejalan dengan itu, Polda Riau di bawah kepemimpinan Komjen Herry Heryawan melakukan gerakan nyata melalui penanaman sejuta pohon.
Komjen Herry Heryawan mengubah tradisi pemberian karangan bunga dan menggantinya dengan pohon. Di lingkungan internal, Komjen Herimen--sapaan akrabnya--memberikan kado pohon kepada personel yang berulang tahun atau yang naik pangkat dalam berbagai kesempatan.
Beririsan dengan itu, Komjen Herimen juga memberikan perhatian besar terhadap kelangsungan Gajah Sumatra. Menjaga alam, berarti menjaga ekosistem di dalamnya, termasuk kelangsungan Gajah Sumatra.
Upaya nyata dilakukan dengan melakukan penindakan tegas terhadap pelaku. Pada Maret 2026, Polda Riau di bawah perintah Komjen Herry mengungkap kasus kematian gajah tanpa kepala di areal konsesi PT RAPP Distrik Ukui, Desa Lubuk Kembang Bunga, Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan. Gajah liar berusia sekitar 40 tahun itu ternyata mati dibunuh dan gadingnya diperjualbelikan.
Dalam kasus tersebut, Polda Riau menangkap 17 tersangka yang merupakan satu sindikat jaringan Riau-Sumbar-Jakarta-Solo. Tak hanya menindak para pelaku, komitmen Polda Riau untuk melindungi gajah adalah dengan memiskinkan para pelaku dengan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).
"Dari hasil penyidikan lanjutan, penyidik menemukan bukti permulaan yang cukup adanya tindak pidana pencucian uang yang dilakukan oleh tersangka FA dan tersangka FS," kata Dirkrimsus Polda Riau Kombes Ade Kuncoro Ridwan dalam konferensi pers di Polda Riau, Kamis (11/6/2026).
Langkah nyata lainnya yang dilakukan Komjen Herry Heryawan dalam upaya melindungi gajah adalah dengan mendirikan breeding area di Pusat Latihan Gajah (PLG) Minas, Kabupaten Siak. Komjen Herry Heryawan saat itu menyampaikan dengan adanya breeding area ini diharapkan dapat menjaga kelestarian Gajah Sumatra yang terancam punah, sehingga generasi mendatang masih bisa melihat satwa asli Sumatra di masa depan.
"Keberadaan gajah ini terus terusir. Mereka (gajah) tidak tahu harus berkeluh kesah kepada siapa," kata Herry Heryawan saat itu.
Herry Heryawan mengatakan Polri sebagai aparat penegak hukum memiliki kewajiban untuk menjaga alam, termasuk satwa-satwa yang dilindungi. Hal ini juga sejalan dengan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 8 Tahun 2026 mengenai Percepatan Perlindungan dan penyelamatan Populasi serta Habitat Gajah Sumatra dan Gajah Kalimantan yang diterbitkan 15 Juni 2026.
Pada sebuah kesempatan, Komjen Herry Heryawan juga menyatakan dukungannya terhadap gajah secara terbuka. Dalam mediasi dengan masyarakat yang menempati kawasan konservasi Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), Pelalawan, Herry Heryawan dengan lantang menyatakan pasang badan untuk gajah-gajah yang terusir dari habitatnya.
"Saya berdiri di sini perwakilan dari gajah. Gajah-gajah ini kan nggak bisa ngomong, yang ada di sana, lingkungan hidup yang ada di sana kan nggak bisa ngomong padahal mereka makhluk hidup sama dengan kita," kata Herry Heryawan di kantor Gubernur Riau, Pekanbaru, Sabtu (21/6/2025).
Herry Heryawan menegaskan bahwa TNTN merupakan rumah bagi gajah dan hewan-hewan lain yang mulai terancam punah.
"Kalau mereka bisa ngomong kenapa dulu mereka punya rumah itu diganggu tapi kita nggak boleh ke belakang lagi TNTN ini kan untuk ekosistem, terutama gajah yang hidup di dalam ekosistem di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo," tambahnya.
Kepeduliannya terhadap gajah membuatnya dijuluki sebagai bapak gajah. Dalam satu kesempatan, Herry Heryawan juga menyatakan menjadi bapak asuh bagi anak gajah Domang dan Tari.