NADIKABAR.COM — Para pakar aviasi mengungkap bahaya turbulensi hingga es di udara dalam insiden pesawat Learjet 60 yang jatuh menghantam kawasan pemukiman di Florida, Amerika Serikat pada Minggu (1/11).
Joseph Post, peneliti dari University of South Florida, mengatakan bahwa badai petir dapat menciptakan kondisi penerbangan yang berbahaya, terutama ketika pesawat menghadapi turbulensi parah atau pembentukan lapisan es.
"Bahaya tersebut berasal dari turbulensi dan lapisan es akibat badai petir. Oleh karena itu, badai petir mungkin menjadi fenomena cuaca paling berbahaya dalam dunia penerbangan," kata Post dikutip dari WFLA, Senin (2/11).
Menurut Post, penumpukan es dapat mengganggu aliran udara di atas sayap pesawat. Kondisi ini dapat mengurangi daya angkat dan berpotensi menyebabkan pesawat mengalami stall atau kehilangan daya angkat.
Menurutnya, turbulensi yang parah juga dapat memberikan tekanan besar pada struktur pesawat. Dalam kondisi ekstrem, hal ini bahkan dapat menyebabkan kegagalan struktur pesawat.
Namun demikian, Post mengingatkan bahwa penyebab pasti hilangnya kendali Learjet tersebut masih belum diketahui. Penyelidik belum memastikan apakah kecelakaan tersebut disebabkan oleh pembentukan es, turbulensi atau faktor lainnya.
Dalam laporan berbeda, pilot komersial sekaligus CEO Jettly, Justin Crabble menjelaskan arti keberadaan es pada sayap pesawat dan dampaknya terhadap penerbangan.
"Ketika pesawat terbang menembus awan yang mengandung tetesan air sangat dingin, tetesan tersebut dapat membeku saat bersentuhan dengan badan pesawat. Bahkan, lapisan es yang relatif tipis sekalipun dapat memengaruhi cara pesawat terbang secara signifikan, begitu pula dengan dampak turbulensi terhadap pesawat," kata Crabble kepada LADbible, Senin (2/11).
Ia turut menjelaskan arti istilah severe icing atau pembentukan lapisan es parah serta dampaknya terhadap kendali pesawat.