Di sisi Bandung, Stasiun Whoosh Padalarang terhubung dengan KA Feeder menuju Stasiun Cimahi dan Bandung, dengan pengaturan jadwal yang disesuaikan untuk mendukung perpindahan pelanggan. Kawasan Padalarang juga dilayani Commuter Line Bandung Raya, bus Trans Metro Pasundan, serta layanan pengumpan menuju Kota Baru Parahyangan. Dengan pilihan tersebut, perjalanan Whoosh dapat dilanjutkan menuju pusat Kota Bandung maupun kawasan lain di sekitarnya.

Skala kebutuhan perjalanan pada layanan perkotaan dan kereta cepat terlihat dari data KAI Group. Sepanjang Januari–September 2026, LRT Jabodebek melayani 24.702.905 pelanggan, meningkat 18,94 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada periode tersebut, Whoosh melayani 4.576.841 pelanggan, tumbuh 1,16 persen, sedangkan KAI Commuter melayani 312.302.440 pelanggan, meningkat 6,38 persen.

Di Yogyakarta, integrasi berlangsung melalui empat kelompok layanan rel yang saling melengkapi. Stasiun Yogyakarta menjadi titik temu kereta api jarak jauh dan lokal, Commuter Line Yogyakarta–Palur, Prameks Yogyakarta–Kutoarjo, serta kereta menuju Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) melalui Wates. Pelanggan yang tiba dari Jakarta atau Surabaya, misalnya, dapat melanjutkan perjalanan menuju Solo menggunakan Commuter Line, menuju Kutoarjo dengan Prameks, atau menuju YIA melalui kereta bandara. Kawasan Stasiun Yogyakarta juga memiliki akses menuju layanan Trans Jogja.

Besarnya pemanfaatan layanan di wilayah tersebut tercatat dalam data KAI hingga September 2026. Aktivitas pelanggan kereta api jarak jauh dan lokal Daop 6 Yogyakarta mencapai 11.996.034, meningkat 11,00 persen. Sementara itu, Commuter Line Yogyakarta–Palur melayani sekitar 7,16 juta pelanggan, Prameks sekitar 870 ribu pelanggan, dan kereta bandara YIA sekitar 2,01 juta pelanggan. Berdasarkan rekap pelanggan naik atau gate-in lintas layanan, Stasiun Yogyakarta mencatat 5.488.259 aktivitas pelanggan, diikuti Lempuyangan sebanyak 2.114.387, Solo Balapan 1.958.718, Purwosari 883.399, dan Stasiun YIA 838.793.

“Yogyakarta menjadi contoh menarik karena perjalanan antarkota, komuter, regional, dan bandara bertemu di kawasan yang sama. Pelanggan bisa datang dari kota lain dan melanjutkan perjalanan menuju Solo, Kutoarjo, atau bandara. Keterhubungan seperti ini membantu masyarakat memiliki lebih banyak pilihan, termasuk untuk kegiatan pendidikan, perdagangan, dan pariwisata,” jelas Anne.

Di Semarang, keterhubungan kereta api dengan transportasi perkotaan berlangsung melalui BRT Trans Semarang. Koridor IV menghubungkan kawasan Stasiun Semarang Tawang dan Stasiun Semarang Poncol dengan sejumlah titik di dalam kota, antara lain kawasan Jalan Pemuda, Balai Kota, Tugu Muda, Karangayu, hingga arah Ngaliyan dan Terminal Cangkiran. Pelanggan yang tiba di Tawang atau Poncol dapat menggunakan jaringan BRT untuk melanjutkan perjalanan menuju kawasan pelayanan publik, permukiman, dan pusat kegiatan lainnya. Sepanjang Januari–September 2026, aktivitas pelanggan kereta api jarak jauh dan lokal Daop 4 Semarang mencapai 10.949.458, meningkat 9,12 persen.