Sementara di Surabaya, integrasi dengan angkutan perkotaan memiliki contoh konkret melalui feeder WiraWiri Suroboyo rute FD07. Rute yang menghubungkan Terminal Bratang dengan Stasiun Surabaya Pasar Turi ini melewati kawasan Stasiun Surabaya Gubeng Baru, sehingga mendukung perjalanan pelanggan antara dua kawasan stasiun utama dan sejumlah titik kegiatan kota. Di kawasan Wonokromo, akses ke jaringan bus dan angkutan perkotaan turut menjadi pilihan perjalanan lanjutan, dengan penyesuaian terhadap titik pemberhentian layanan yang tersedia. Aktivitas pelanggan kereta api jarak jauh dan lokal Daop 8 Surabaya mencapai 9.738.167 sepanjang Januari–September 2026, tumbuh 7,69 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Konektivitas serupa juga hadir di Sumatera, dengan perhatian besar pada hubungan antara pusat kota dan bandara. Di Sumatera Utara, layanan KA Srilelawangsa menghubungkan Stasiun Medan dengan Stasiun Bandara Kualanamu, yang terintegrasi langsung dengan area terminal bandara. Pelanggan dapat berpindah dari kereta menuju terminal penerbangan melalui akses dalam kawasan bandara. Sementara itu, di Sumatera Barat, KA Minangkabau Ekspres menghubungkan kawasan Kota Padang dengan Bandara Internasional Minangkabau. Perpindahan dari stasiun menuju terminal dibantu skybridge sepanjang 136 meter, yang kembali dioperasikan pada Juni 2025.
Di Palembang, LRT Sumatera Selatan menghubungkan Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II dengan berbagai kawasan kota, termasuk Asrama Haji, Bumi Sriwijaya, Ampera, dan DJKA. Konektivitasnya dilengkapi jaringan pengumpan Feeder LRT Musi Emas. Pada dokumentasi jaringan pengumpan, terdapat delapan koridor, di antaranya Asrama Haji–Sematang Borang, Asrama Haji–Talang Betutu, Polrestabes–Kompleks OPI, DJKA–Pasar Plaju, serta RSUD–Sukawinatan. Kehadiran layanan ini membantu memperluas jangkauan perjalanan dari stasiun LRT menuju kawasan yang belum dilewati jalur rel.
Sepanjang Januari–September 2026, LRT Sumatera Selatan melayani 3.303.595 pelanggan. Pada periode yang sama, aktivitas pelanggan kereta api jarak jauh dan lokal di Divre I Sumatera Utara mencapai 4.123.614, Divre II Sumatera Barat 3.467.280, dan Divre III Palembang 1.793.105. Data tersebut memperlihatkan keragaman kebutuhan perjalanan di Sumatera, dengan bentuk integrasi yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing wilayah.
Anne mengatakan keterhubungan berbagai layanan tersebut memperlihatkan pentingnya kerja sama antara penyelenggara kereta api, pemerintah daerah, pengelola bandara, dan operator transportasi perkotaan. Setiap wilayah memiliki pola perjalanan berbeda, sehingga kemudahan perpindahan moda, akses pejalan kaki, informasi layanan, dan angkutan lanjutan menjadi bagian dari kebutuhan masyarakat.
“Dari Halim yang menghubungkan Whoosh dan LRT, Yogyakarta yang memiliki empat kelompok layanan rel, Surabaya dengan angkutan pengumpannya, sampai Medan, Padang, dan Palembang yang terhubung dengan bandara, masyarakat sudah memiliki berbagai pilihan perjalanan. Harapannya, keterhubungan antarmoda yang tersedia dapat terus dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan ekonomi, pendidikan, pariwisata, dan mobilitas sehari-hari di berbagai daerah,” tutup Anne.