NADIKABAR.COM — Pemanfaatan internet melalui media sosial dan platform perdagangan digital membantu pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memperluas jangkauan pemasaran hingga menjangkau konsumen dari berbagai daerah.
Pemilik usaha Tahu Gejrot Khas Cirebon Bang Jenggot, Abi, mengatakan mulai memanfaatkan media sosial, terutama TikTok dan Instagram, pada 2021 untuk memperkenalkan produknya kepada masyarakat.
“Dari orang yang nggak tahu, jadi tahu,” kata Abi kepada NadiKabar sembari berjualan di acara Halalicious 2026, Rabu (14/10).
Ia mengaku omzet usahanya meningkat lebih dari 40 persen dibandingkan sebelum memanfaatkan media sosial untuk promosi. Menurut Abi, promosi melalui pembuat konten kuliner menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan produknya kepada calon konsumen. Sejumlah pembuat konten yang pernah mengulas usaha miliknya antara lain Gorila Gembul, Icip-Icip Channel, dan Doyan Makan.
Ia memilih pembuat konten yang berbeda untuk menjangkau kelompok penonton yang beragam. Menurut dia, ulasan tersebut dapat meningkatkan perhatian masyarakat dan berdampak pada penjualan.
“Kalau memang bisa menggenjot penjualan atau omzet, ya kita oke saja,” ujarnya.
Selain menggunakan media sosial untuk promosi, Abi memanfaatkan WhatsApp untuk berkomunikasi dengan pelanggan, termasuk menerima pesanan untuk seminar, hajatan, dan acara perusahaan.
Ia mengatakan usahanya secara rutin mendapat undangan dari sejumlah perusahaan, terutama di kawasan Cikarang. Pesanan untuk kegiatan tersebut disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan, termasuk jumlah produk dan kemasan.
Sementara itu, pemilik usaha makanan Crave Bites, Anet Sofilda, mengatakan usahanya yang mulai beroperasi sekitar satu tahun lalu sejak awal mengandalkan platform digital untuk memasarkan dan menjual produk.
Usaha dengan produk pencuci mulut viral Dubai Chewy Cookie itu menggunakan sejumlah kanal, antara lain TikTok Shop dan ShopeeFood, untuk menjangkau pembeli. Menurut Anet, pesanan melalui platform digital datang dari berbagai daerah, termasuk Bali dan Kalimantan.
“Karena online, jadi kebanyakan dari luar Jawa,” kata Anet yang juga berada di acara Halalicious 2026.
Ia mengatakan omzet usahanya tersebut mencapai sekitar Rp700 ribu per hari, meskipun jumlahnya dapat berubah mengikuti kondisi penjualan.
Untuk memasarkan produknya, Anet membuat video promosi sendiri dan memanfaatkan fitur iklan pada platform digital. Menurut dia, penggunaan internet membantu usahanya menjangkau calon pelanggan yang sebelumnya belum mengenal produknya.
“Sangat penting sih, soalnya bisa jangkau pelanggan yang sebelumnya enggak tahu dari kita. Jadi, tiap harinya pasti ada pesanan baru dari orang yang berbeda-beda,” ujarnya.
Meski membuka peluang menjangkau konsumen lintas daerah, Anet mengatakan kemudahan akses ke platform digital juga membuat persaingan usaha semakin ketat.
“Tantangannya banyak pesaing, karena semakin mudah aksesnya,” katanya.
Untuk menghadapi persaingan tersebut, ia berupaya meningkatkan kualitas produk agar dapat mempertahankan minat konsumen.
Pemanfaatan internet oleh kedua pelaku usaha tersebut sejalan dengan arah kebijakan Kementerian Komunikasi dan Digital yang mendorong transformasi digital UMKM agar mampu meningkatkan produktivitas dan daya saing.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mengatakan pemanfaatan teknologi perlu diarahkan agar UMKM dapat berkembang dan lebih kompetitif dalam ekosistem ekonomi digital.
“Kalau kita bilang UMKM harus go online, itu sudah selesai. Sekarang kita bicara bagaimana mereka bisa go produktif dan go kompetitif,” ujar Nezar dalam Tutur Economic Dialogue 2026 di Jakarta Pusat, Selasa (7/4/2026).