NADIKABAR.COM — Investor Amerika Serikat (AS) sekaligus Anggota Komite High Shareholding Concentration (HSC), Chapman Taylor, meyakini pasar modal Indonesia tidak akan turun kasta dari Emerging Market di indeks MSCI. Bahkan penurunan kasta pasar modal Indonesia diklaim kurang dari 50%.
Menurutnya, keyakinan investor telah meningkat signifikan dibanding posisi di bulan Juli 2026. Hal tersebut terjadi utamanya karena pemerintah dan regulator dinilai aktif membangun komunikasi dengan MSCI.
"Keyakinannya meningkat signifikan dibandingkan Juli 2026, terutama karena pemerintahan dan regulator kini lebih solid, kembali aktif berkomunikasi dengan MSCI, serta mulai menunjukkan keseriusan dalam penegakan hukum manipulasi pasar," ungkapnya dalam keterangan tertulis, Kamis (29/10/2026).
Ia menjelaskan, Komite HSC yang telah dibentuk Self-Regulatory Organization (SRO) akan menjadi katalis positif bagi pasar modal Indonesia. Langkah reformasi pasar modal yang diusung OJK juga disebut tepat.
Mantan Portfolio Manager dan Research Director di Capital Group itu menilai masalah Indonesia dapat diperbaiki, sebagaimana pengalaman Malaysia yang berhasil mengembalikan kepercayaan investor asing setelah reformasi pasar.
Namun Chapman menilai pasar belum sepenuhnya memperhitungkan perubahan positif ini. Akan tetapi jika pasar modal Indonesia mengalami downgrade, ia menilai aksi jual investor pasif sebagai peluang beli bagi investor aktif mengingat valuasi saham RI sudah sangat murah dan berpotensi meningkatkan likuiditas domestik.
Sebagai informasi, Chapman Taylor merupakan anggota komite HCS yang baru diumumkan Bursa Efek Indonesia (BEI) beberapa waktu lalu. Ia menjadi anggota baru bersama lima pihak lainnya.
Adapun rinciannya Direktur Utama Mandiri Sekuritas Alex Widi dan Direktur Utama UBS Sekuritas Joshua Arief Tanja. Kemudian BEI juga melibatkan Dewan Pengurus Komite Nasional Kebijakan Governansi.
Sementara dari tokoh akademisi, BEI melibatkan Prof. Dr. Eduardus Tandelilin. Sedangkan untuk investor global diwakili oleh F. Chapman Taylor.
"Kami harapkan dengan kebijakan transparansi, tata kelola, dan kredibilitas dari output, dari komite ini akan dapat lebih baik di depannya," kata Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik, dalam konferensi pers di Main Hall BEI, Jakarta, Senin (26/10/2026).