"Penurunan hingga menembus level psikologis 5.000 mencerminkan investor masih cenderung defensif dan risk appetite belum pulih," jelasnya kepada NadiKabar, Jumat (30/10/2026).

Tekanan terhadap IHSG dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari kekhawatiran terhadap kondisi pasar domestik, ketidakpastian terkait MSCI dan tata kelola pasar modal, hingga berlanjutnya arus keluar modal asing (capital outflow). Kondisi ini membuat saham-saham berkapitalisasi besar masih menjadi penekan utama pergerakan indeks.

Meski demikian, peluang IHSG untuk rebound pada pekan depan masih terbuka, terutama jika tekanan jual mulai mereda dan aliran dana asing membaik. Namun, penguatan tersebut diperkirakan masih bersifat teknikal dan rentan kembali bergejolak.

"Rebound kemungkinan masih bersifat teknikal dan rentan terhadap volatility. Jadi, investor sebaiknya tetap selektif dan memperhatikan saham dengan fundamental serta likuiditas yang baik," pungkasnya.