"Jadi otomatis walaupun saya minat, tapi mungkin saya lebih baik... mungkin ya orang harus lihat dong, dengan nilainya semahal itu kan," kata Joy.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa daya tarik teknologi baru saja belum tentu cukup untuk mendorong pembelian. Konsumen juga perlu menilai apakah pengalaman menggunakan layar lipat sepadan dengan harga yang harus dibayar.
Kendati demikian, Joe tidak meragukan bahwa iPhone Duo tetap akan menemukan pembelinya di Indonesia.
Hanya saja, menurutnya, pasar iPhone Duo kemungkinan lebih terbatas dibandingkan iPhone 18 Pro dan iPhone 18 Pro Max yang menawarkan desain smartphone konvensional.
Dengan demikian, kehadiran iPhone Duo diperkirakan lebih menyasar konsumen premium yang menginginkan pengalaman berbeda, bukan pasar iPhone secara keseluruhan.
"Karena ini merupakan iPhone lipat pertama Apple, saya yakin peminatnya pasti ada. Namun, kalau dibandingkan dengan iPhone Pro Series, rasanya cukup sulit untuk menyamai penjualannya. Sebab, smartphone lipat memang memiliki segmen pasar tersendiri," pungkas Joy.