NADIKABAR.COM β€” Ipsos Indonesia mengajak para pelaku industri untuk menjaga "brand equity" berjalan beriringan dengan konteks pasar agar dapat mendorong pertumbuhan yang nyata.

Managing Director Ipsos Indonesia Hansal Savla mengatakan di tengah perubahan sentimen konsumen dan meningkatnya kehati-hatian dalam berbelanja, brand perlu melihat kembali bagaimana pertumbuhan dapat dibangun.

Menurut dia dalam keterangannya di Jakarta, Kamis, konsumen Indonesia masih menghadapi berbagai tekanan yang memengaruhi cara mereka mengambil keputusan. Kekhawatiran terhadap kondisi keuangan, daya beli dan situasi investasi masih menjadi bagian dari sentimen konsumen.

Perubahan sentimen tersebut, lanjut dia, perlu menjadi perhatian bagi brand dalam memahami perilaku konsumen.

β€œKita melihat konsumen Indonesia yang tetap berhati-hati dan selektif dalam membelanjakan uangnya. Dalam kondisi seperti ini, brand perlu memahami bahwa pertumbuhan tidak hanya berbicara mengenai seberapa kuat sebuah brand di benak konsumen, tetapi juga bagaimana brand dapat hadir dan tetap relevan ketika konsumen membuat keputusan pembelian," katanya.

Kekhawatiran terhadap biaya hidup masih menjadi faktor utama yang membentuk realitas konsumen, tambahnya, berdasarkan temuan Ipsos pada Agustus 2026, sekitar 81 persen masyarakat Indonesia menyatakan khawatir terhadap kenaikan harga kebutuhan pokok, sementara kekhawatiran terhadap tingkat pengangguran meningkat menjadi 45 persen, dibandingkan 35 persen pada April 2026.

Dia menyatakan konsumen diperkirakan akan tetap berhati - hati dan selektif dalam melakukan pengeluaran hingga akhir tahun.

Namun, lanjut dia dalam Ipsos Growth Forum 2026, perubahan perilaku konsumen tidak serta-merta berarti brand harus berhenti membangun desire dan brand equity.

"Justru, tantangannya adalah bagaimana kekuatan sebuah brand dapat diterjemahkan menjadi pembelian nyata di tengah berbagai faktor yang memengaruhi keputusan konsumen," ujarnya.

Country Service Line Group Director Brand Health Tracking & Creative Assessment Ipsos Indonesia Lioni Halim menjelaskan terdapat kesenjangan yang sering terjadi antara brand yang disukai konsumen dengan performa aktualnya di pasar.

"Pertumbuhan terjadi ketika brand mampu membangun keinginan konsumen terhadap brand tersebut, sekaligus membuat konsumen lebih mudah untuk membeli melalui faktor-faktor pasar yang tepat," ujarnya.

Menurut dia, konteks pasar memiliki peran penting dalam mengubah preferensi konsumen menjadi pembelian aktual.

Di Indonesia, dampak faktor pasar disebut mencapai tiga kali lipat dibandingkan rata-rata global, menunjukkan pentingnya memahami faktor-faktor yang membuat konsumen dapat dengan mudah menemukan dan membeli sebuah brand.

Lebih lanjut, dia menyatakan distribusi dan assortment memiliki pengaruh yang lebih besar dibandingkan promosi dan harga dalam mendorong pertumbuhan.

β€œBrand yang kuat mampu menciptakan keinginan di benak konsumen. Namun, untuk memenangkan pertumbuhan, brand juga perlu memastikan bahwa konsumen dapat dengan mudah menemukan dan membeli produk tersebut. Di sinilah brand equity perlu bertemu dengan konteks pasar," katanya.