NADIKABAR.COM — Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memperingatkan bahwa serangan terbaru dari Amerika Serikat (AS) akan menuai respons yang akan membuat Washington "menyesal". IRGC mengklaim bahwa Teheran telah memperoleh persenjataan yang jauh lebih canggih dibandingkan saat awal perang berkecamuk.

Juru bicara IRGC, Brigadir Jenderal Hossein Mohebbi, seperti dilansir Tasnim News Agency dan Middle East Monitor, Jumat (16/10/2026), menyebut bahwa serangan terbaru AS terhadap Iran akan menjadi tindakan yang "tidak logis", namun tetap mungkin terjadi.

Dalam wawancara dengan televisi pemerintah Iran, Mohebbi menyatakan bahwa Presiden AS Donald Trump mungkin mempertimbangkan untuk kembali melancarkan operasi militer terhadap Iran demi meraih keuntungan politik menjelang pemilu sela pada 3 November mendatang.

Dia menegaskan bahwa Teheran telah bersiap menghadapi skenario semacam itu, dan memperingatkan bahwa setiap serangan baru dari Amerika akan memicu respons yang akan disesali oleh AS.

"Kali ini, konsekuensi yang harus ditanggung AS akan jauh lebih menyakitkan," tegas Mohebbi dalam pernyataannya.

Lebih lanjut, Mohebbi mengklaim bahwa Iran kini telah memperoleh persenjataan yang jauh lebih canggih. Dia menyebut bahwa Teheran hanya menggunakan persenjataan generasi lama selama perang yang dimulai pada 28 Februari lalu.

Dia tidak menjelaskan lebih lanjut mengenai persenjataan yang lebih canggih itu.

Dalam pernyataannya, Mohebbi menepis klaim para pejabat AS yang menyebut otoritas Iran telah terpecah dan tidak saling bekerja sama. Dia menyebut tuduhan itu "sama sekali tidak benar".

Menurut Mohebbi, klaim-klaim semacam itu sengaja dibuat semata-mata untuk membenarkan apa yang dia sebut sebagai "kegagalan" AS dalam perang.

Pernyataan Mohebbi ini disampaikan setelah laporan media, termasuk Axios, yang mengutip sumber-sumber terpercaya, menyebutkan bahwa Trump dan Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu membahas kemungkinan serangan terhadap Iran menjelang pemilu sela AS.