NADIKABAR.COM — Di era digital yang serba cepat, akses terhadap konten media sosial dan internet semakin mudah dijangkau oleh siapa saja. Namun, kemudahan ini juga membawa tantangan besar, salah satunya adalah maraknya paparan konten pornografi dan pornoaksi yang dapat merusak moral serta kesehatan mental.
Islam melarang pornografi dan memerintahkan umatnya untuk menjaga pandangan (ghaddul bashar). Bagaimana pandangan syariat terhadap pornografi? Apa saja dalil tentang menjaga pandangan?
Mengutip buku Edisi Tafsir: Pornografi dan Pornoaksi dalam dalam Penjelasan Al-Qur'an oleh Saiyid Mahadhir,Lc, MA, Islam mengategorikan pornografi sebagai perbuatan fahisyah (kekejian) yang menjadi pintu masuk menuju perbuatan zina.
Pentingnya membendung dampak buruk media terhadap moral umat juga ditegaskan melalui Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 287 Tahun 2001 tentang Pornografi dan Pornoaksi. MUI menetapkan sejumlah ketentuan mengenai pornografi dan pornoaksi, di antaranya sebagai berikut:
Salah satu landasan larangan pornografi dalam Islam adalah perintah Allah SWT untuk menundukkan pandangan dan memelihara kehormatan. Hal ini termaktub dalam Surah An-Nur ayat 30-31:
قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ
"Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, hendaklah mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat."
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Isra' ayat 36 tentang pertanggungjawaban semua indra:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗاِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا
"Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak kau ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya."
Dalam Surah Ghafir ayat 19, Allah SWT menegaskan bahwa Dia mengetahui pandangan mata yang khianat dan segala yang tersembunyi di dalam dada:
يَعْلَمُ خَاۤىِٕنَةَ الْاَعْيُنِ وَمَا تُخْفِى الصُّدُوْرُ
"Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang tersembunyi di dalam dada."
Merujuk kitab Riyadhus Shalihin karya Imam An-Nawawi, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa zina mata dapat terjadi melalui pandangan yang haram.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda,
"Zina kedua mata adalah melihat, zina kedua telinga adalah mendengar, zina lidah adalah berbicara, zina kedua tangan adalah menyentuh, zina kedua kaki adalah melangkah, dan zina hati adalah berkeinginan dan berangan-angan, sedangkan semua itu akan dibenarkan atau ditolak oleh kemaluan." (HR. Bukhari dan Muslim)
Saat para sahabat sedang duduk di pinggir jalan dan bercakap-cakap, Rasulullah mendatangi mereka dan bersabda,
"Mengapa kalian duduk-duduk di pinggir jalan? Jauhilah duduk-duduk di pinggir jalan!". Para sahabat menjawab mereka duduk untuk bercakap-cakap dan saling mengingatkan. Lalu Nabi SAW bersabda, "kalau begitu, tunaikan hak jalanan, yaitu: menundukkan pandangan, menjawab salam, dan berbicara yang baik." (HR. Muslim)
Selain itu, ketika sahabat Jarir bin Abdillah RA bertanya kepada Rasulullah SAW tentang pandangan yang tidak sengaja, Rasulullah SAW bersabda,
"Palingkanlah pandanganmu!" (HR. Muslim)