Kini, KMT ingin mengubah kejadian itu menjadi fasilitas penelitian jangka panjang. Dalam situs resminya, proyek tersebut menyebut tujuannya sebagai pembangunan 'observatorium magma pertama di dunia'. Fasilitas ini dirancang untuk mengambil sampel, memasang instrumen pemantauan, dan mengamati interaksi magma dengan batuan serta fluida di sekitarnya.

Salah satu pertanyaan penting yang ingin dijawab adalah bagaimana panas berpindah dari magma ke sistem hidrotermal. Panas tersebut memanaskan air di dalam batuan dan membentuk sumber daya panas bumi. Jika mekanisme ini dipahami lebih baik, ilmuwan dapat mengembangkan cara untuk memanfaatkan energi dari reservoir yang jauh lebih panas daripada sistem panas bumi konvensional.

Potensi energinya besar, tetapi seperti dikutip dari ZME Science, Sabtu (17/10/2026), tantangan teknisnya juga tidak kecil. Suhu dan tekanan ekstrem dapat merusak material sumur, sensor, serta peralatan pengeboran. Karena itu, penelitian KMT juga akan menguji teknologi yang mampu bertahan dalam lingkungan bawah tanah yang sangat panas.