"Indonesia juga memiliki komitmen net zero emission tahun 2060. Sekarang tahun 2026, 30 tahun lagi batu bara kita habis, kita mau apa dan apa pertanggungjawabannya?" ujarnya.

Ia juga menyoroti dinamika pasokan batu bara untuk pembangkit listrik yang dipengaruhi mekanisme pasar terutama ketika harga komoditas di pasar internasional lebih menarik dibandingkan harga domestik yang dipatok sebesar 70 dolar AS per ton.

Dalam upaya memperluas pilihan sumber energi, Gogor menilai PLTN dapat menjadi salah satu opsi yang dipertimbangkan Indonesia untuk melengkapi bauran pembangkit listrik nasional.

Namun, ia mengingatkan pemilihan teknologi nuklir perlu mempertimbangkan berbagai aspek jangka panjang mengingat sejumlah negara seperti Rusia, Jepang, Korea Selatan, China, Amerika Serikat, dan Kanada menawarkan teknologi PLTN kepada Indonesia.

Menurut dia, keputusan tersebut tidak hanya menyangkut pembangunan pembangkit, tetapi juga keberlanjutan pasokan bahan bakar, skema pembiayaan, serta ketergantungan terhadap kerja sama teknologi dengan negara mitra.