"Artinya, ketika kita mencoba untuk mengambil salah satu teknologi dari salah satu negara, itu pasti akan terkait dengan bahan bakarnya bagaimana next-nya, kemudian pembiayaan bagaimana. Kalau kita mau bawa itu ke sisi ekonomi, bayangkan hal yang akan mengunci," ujarnya.
Gogor juga mengingatkan pengembangan teknologi small modular reactor (SMR) berkapasitas sekitar 250 megawatt (MW) perlu dikaji secara menyeluruh, meskipun memiliki ukuran lebih kecil dibandingkan pembangkit nuklir konvensional.
Ia menekankan kesiapan teknologi, pengalaman operasional, ekosistem logistik, dan biaya pembangkitan atau levelized cost of electricity (LCOE) menjadi sejumlah aspek yang perlu diperhitungkan sebelum menentukan pilihan.
"Misal kita mau ambil small modular reactor, murah memang secara kecil karena skalanya kecil 250 megawatt. Pasti LCOE-nya akan tinggi, tetapi itu teknologi baru, secara logistik belum banyak yang punya dan belum banyak proven. Artinya, kalau teknologi itu belum banyak proven, secara ekosistem ekonomi pasti akan tinggi," katanya.