NADIKABAR.COM — Dosen Departemen Manajemen Bisnis Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Gogor Arif Handiwibowo mendorong pengembangan sumber energi alternatif termasuk pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) untuk memperkuat ketahanan pasokan listrik nasional.
Gogor menyatakan langkah diversifikasi energi itu juga dapat menjadi upaya mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil dalam jangka panjang.
"Diversifikasi energi diperlukan mengingat sekitar 60 persen pasokan listrik nasional saat ini masih ditopang pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbahan bakar batu bara," katanya di Surabaya, Jatim, Jumat.
Ia menjelaskan batu bara Indonesia memiliki masa yang sekitar 30 tahun ke depan diperkirakan akan habis, sehingga diversifikasi energi yang lain perlu dilakukan.
Menurut dia, perencanaan sumber energi alternatif perlu dilakukan sejak sekarang agar Indonesia memiliki pilihan pembangkit yang memadai ketika pemanfaatan energi fosil semakin terbatas, sekaligus memenuhi kebutuhan listrik yang terus berkembang.
"Indonesia juga memiliki komitmen net zero emission tahun 2060. Sekarang tahun 2026, 30 tahun lagi batu bara kita habis, kita mau apa dan apa pertanggungjawabannya?" ujarnya.
Ia juga menyoroti dinamika pasokan batu bara untuk pembangkit listrik yang dipengaruhi mekanisme pasar terutama ketika harga komoditas di pasar internasional lebih menarik dibandingkan harga domestik yang dipatok sebesar 70 dolar AS per ton.
Dalam upaya memperluas pilihan sumber energi, Gogor menilai PLTN dapat menjadi salah satu opsi yang dipertimbangkan Indonesia untuk melengkapi bauran pembangkit listrik nasional.
Namun, ia mengingatkan pemilihan teknologi nuklir perlu mempertimbangkan berbagai aspek jangka panjang mengingat sejumlah negara seperti Rusia, Jepang, Korea Selatan, China, Amerika Serikat, dan Kanada menawarkan teknologi PLTN kepada Indonesia.
Menurut dia, keputusan tersebut tidak hanya menyangkut pembangunan pembangkit, tetapi juga keberlanjutan pasokan bahan bakar, skema pembiayaan, serta ketergantungan terhadap kerja sama teknologi dengan negara mitra.
"Artinya, ketika kita mencoba untuk mengambil salah satu teknologi dari salah satu negara, itu pasti akan terkait dengan bahan bakarnya bagaimana next-nya, kemudian pembiayaan bagaimana. Kalau kita mau bawa itu ke sisi ekonomi, bayangkan hal yang akan mengunci," ujarnya.
Gogor juga mengingatkan pengembangan teknologi small modular reactor (SMR) berkapasitas sekitar 250 megawatt (MW) perlu dikaji secara menyeluruh, meskipun memiliki ukuran lebih kecil dibandingkan pembangkit nuklir konvensional.
Ia menekankan kesiapan teknologi, pengalaman operasional, ekosistem logistik, dan biaya pembangkitan atau levelized cost of electricity (LCOE) menjadi sejumlah aspek yang perlu diperhitungkan sebelum menentukan pilihan.
"Misal kita mau ambil small modular reactor, murah memang secara kecil karena skalanya kecil 250 megawatt. Pasti LCOE-nya akan tinggi, tetapi itu teknologi baru, secara logistik belum banyak yang punya dan belum banyak proven. Artinya, kalau teknologi itu belum banyak proven, secara ekosistem ekonomi pasti akan tinggi," katanya.