Masalah jangka panjang Jaguar Land Rover semakin diperparah setelah perusahaan mengalami serangan siber tahun lalu. Hal ini sempat menyebabkan perusahaan yang mempekerjakan 43.000 orang di seluruh dunia itu menghentikan lini produksi mereka selama lebih dari sebulan.
Belum lagi, aturan tarif yang diberlakukan oleh Presiden AS Donald Trump juga merugikan perusahaan karena tidak seperti banyak pesaingnya, mereka tidak memiliki pabrik di AS.
Dalam laporan keuangan tahunan hingga akhir Maret, JLR menyatakan bahwa tarif AS dan serangan siber merupakan alasan utama mengapa penjualannya anjlok 20% menjadi 22,9 miliar poundsterling (Rp 544 triliun) dari 29 miliar poundsterling (Rp 689 triliun) pada dua tahun sebelumnya.
Lihat juga Video: #TanyadetikFinance Ada Sinyal Apa di Balik PHK Besar-besaran Tokopedia?