Ketika itu, Indonesia tetap berupaya menjaga ruang dialog di tengah perbedaan kepentingan. Pelajaran yang dapat ditarik bukan bahwa Indonesia selalu berhasil menjadi penengah, melainkan bahwa kredibilitas negara menengah seperti Indonesia tumbuh dari kemampuannya mempertahankan saluran komunikasi dan mencari kesepakatan yang dapat diterima bersama.
Dalam isu ekonomi kreatif, kemampuan serupa diperlukan agar agenda yang dibawa Indonesia tidak dipersepsikan sebagai kepentingan nasional yang diberi label global.
Kredibilitas diplomasi tidak hanya dibentuk oleh pidato di forum internasional semata, tetapi juga oleh kesesuaian antara gagasan yang ditawarkan dan kebijakan yang dijalankan.
Kebijakan domestik yang kuat dapat memberi Indonesia contoh konkret ketika mengajak negara lain membangun ekonomi kreatif yang inklusif.
Sebaliknya, kerja sama internasional dapat membuka peluang pertukaran teknologi, peningkatan keterampilan, perluasan pasar, dan pengembangan jaringan investasi bagi pelaku lokal.
Namun, manfaat tersebut tentu saja tidak datang secara otomatis. Pemerintah perlu memastikan bahwa kerja sama tidak berhenti pada penandatanganan kesepakatan atau pertemuan antarpemangku kepentingan, tetapi juga menghasilkan akses dan kemampuan baru yang dapat digunakan oleh kreator dan perusahaan Indonesia.
Keberhasilan Jakarta Vision tidak cukup dinilai dari apakah dokumennya diumumkan di Jakarta atau dirujuk dalam pembahasan khusus di PBB.
Ukuran yang lebih substantif adalah apakah Indonesia mampu membangun koalisi lintas kawasan, memperjuangkan kepentingan yang benar-benar dirasakan negara-negara berkembang, dan mengawal gagasan-gagasan yang diapungkan sampai menghasilkan tindak lanjut.
Indonesia tidak harus menjadi kekuatan terbesar untuk memainkan peran penting dalam pembentukan agenda global. Ekonomi kreatif telah menyediakan ruang yang layak diperjuangkan karena menyangkut pekerjaan, teknologi, perdagangan, budaya, dan kesempatan pembangunan.
Untuk itu, Indonesia perlu membantu menghubungkan kepentingan yang berbeda, sekaligus memastikan bahwa pihak yang selama ini memiliki daya tawar lebih lemah tidak tertinggal.
Jakarta Vision akan memperoleh bobot strategis apabila mampu berjalan seiring dengan upaya memperkuat kreator di rumah sendiri. Dari situlah Indonesia dapat membuktikan bahwa perannya di Global South bukan sekadar klaim kepemimpinan, melainkan kemampuan menghasilkan manfaat untuk bersama.
*) Djoko Subinarto, kolumnis, alumnus Departemen Hubungan Internasional, Universitas Padjadjaran