NADIKABAR.COM — Bagi banyak orang, membuang baterei, handphone rusak ataupun peralatan elektronik lainnya yang sudah tak terpakai kerap tak jauh berbeda dari sampah biasa. Yakni berakhir di tempat sampah rumah tangga dan menumpuk di TPA.
Padahal, hal ini bisa berbahaya. Pasalnya, limbah elektronik umumnya memiliki lebih dari 40 kandungan logam yang bisa mencemari lingkungan hingga merusak air tanah.
"Dari papan sirkuit dan instrumen-instrumen lainnya itu ada lebih dari 40 bahan logam yang bisa berbahaya untuk lingkungan bila tidak dikelola dengan baik," ungkap Founder & CEO Remind, Dzikri Soefihara di ITB, Senin (14/9/2026).
Jumlah sampah elektronik di Indonesia juga diprediksi terus meningkat. Dalam presentasinya, Dzikiri memaparkan bahwa rata-rata Indonesia menghasilkan sekitar 2 juta ton sampah elektronik per tahun pada 2021. Jumlah tersebut diperkirakan mencapai 3,2 juta ton per tahun pada 2040 atau meningkat sekitar 60 persen.
Persoalan sampah elektronik juga tidak terlepas dari kebiasaan masyarakat menggunakan perangkat teknologi. Handphone, misalnya, memiliki siklus penggunaan yang relatif singkat sebelum digantikan dengan perangkat baru.
Direktur & Chief Regulatory Officer XLSMART Merza Fachys menyoroti kebiasaan masyarakat Indonesia yang rata-rata mengganti HP setiap dua hingga tiga tahun.
"Orang Indonesia rata-rata ganti HP dalam dua sampai tiga tahun. Ke mana bekas HP ini larinya, pasti akan sangat banyak alat elektronik setengah rusak yang tidak terpakai, belum lagi kabel dan charger-nya. Ini yang kami pikirkan, apakah (sampah elektronik) masih bisa dimanfaatkan," paparnya dalam kesempatan yang sama.
Lebih lanjut, Direktur Lingkungan Hidup Bappenas RI Nizhar Marizi menjelaskan e-waste memiliki risiko lingkungan yang berbeda dibandingkan sampah rumah tangga biasa. Komponen di dalam perangkat elektronik dapat menimbulkan pencemaran bila tidak ditangani dengan sesuai.
"E-waste lebih berbahaya dibanding sampah yang lain karena di dalamnya ada komponen yang kalau sampai bocor, keluar dari casing-nya, air bisa tercemar," jelas Nizhar.
"Sayangnya sistem penanganan sampah elektronik belum baik, sering tercampur di sampah RT," lanjutnya.
Untuk itu, XLSMART, Remind, dan ITB membangun kolaborasi pengelolaan sampah elektronik agar dapat mengurangi potensi limbah berbahaya sekaligus meningkatkan nilai ekonomi dari komponen limbah elektornik yang masih bisa digunakan.
Kolaborasi tersebut menghadirkan Bye Bye Box, mesin otomatis yang dirancang sebagai tempat pengumpulan barang elektronik bekas. Lewat mesin ini, masyarakat dapat menyetor sampah elektronik ke dalam mesin untuk kemudian ditukar menjadi poin berhadiah.
Barang yang terkumpul nantinya akan melalui proses pemilahan dan pengelolaan lebih lanjut. Tim dari ITB akan melihat kemungkinan perangkat untuk diperbaiki, sedangkan material yang tidak dapat digunakan kembali akan diproses melalui material recovery.
"Manajemen sampah elektronik masih perlu dimaksimalisasi. Kita mulai dari langkah paling awal yaitu mengumpulkan sampah dari konsumen. Setelah itu kita kelola, lalu lakukan material recovery dan didokumentasikan sehingga bisa di-track dan dipertanggungjawabkan," tutur Dzikiri.
Dzikiri mengatakan Remind ingin mendorong konsep ekonomi sirkular dengan mengembalikan material dari sampah elektronik ke dalam rantai pasokan industri.
"Remind ingin ciptakan sirkular ekonomi, ingin kembalikan value sampah elektronik kembali ke rantai pasokan," ujarnya.
Bagi masyarakat yang memiliki perangkat elektronik bekas dan ingin menyetorkannya, Bye Bye Box dapat digunakan melalui beberapa tahapan.
Berikut cara menggunakan Bye Bye Box:
1. Unduh aplikasi yang digunakan dalam program Bye Bye Box.2. Buat akun atau isi data personal jika belum memiliki akun.3. Ikuti proses drop e-waste melalui aplikasi.4. Bawa barang elektronik yang sudah tidak digunakan ke lokasi Bye Bye Box di ITB.5. Masukkan perangkat elektronik ke dalam mesin.6. Mesin akan mendeteksi jenis dan berat barang secara otomatis.7. Data setoran akan terintegrasi dengan aplikasi sehingga pengguna dapat melihat poin atau reward yang diperoleh.
Selain menjadi sarana pengelolaan sampah elektronik, program ini juga menyediakan reward bagi penggunanya.
Masyarakat pengguna jaringan seluler XL, AXIS, dan Smartfren berkesempatan memperoleh bonus kuota utama berdasarkan berat e-waste yang dikumpulkan. Yakni kuota senilai 500 MB untuk e-waste di bawah 1 kg, 1 GB untuk 1-2 kg, dan 1,5 GB untuk di atas 2 kg, dengan masa berlaku satu hari.
Sementara itu, bagi masyarakat non-pengguna XL, AXIS, maupun Smartfren, tersedia kesempatan mendapatkan kartu perdana sesuai ketersediaan selama periode aktivasi.
Kampus ITB menjadi kampus pertama dalam rangkaian roadshow Bye Bye Box. Fasilitas tersebut tersedia di area kampus selama 15-28 September 2026.