NADIKABAR.COM — Terpapar sinar matahari secara berlebihan memang bisa memberikan efek buruk, seperti kulit terbakar, munculnya bintik hitam, bahkan meningkatkan risiko kanker kulit.
Selain itu, ada anggapan bahwa dokter kulit menyarankan untuk selalu berada di dalam ruangan dan menjauhi sinar matahari karena dampaknya yang berbahaya bagi kulit.
Lalu, apakah kita harus selalu menghindari sinar matahari?
Penting untuk mengetahui bahwa sinar matahari tidak selamanya buruk. Terpapar dalam waktu yang ideal bisa membantu memberikan segenap manfaat bagi tubuh.
Mitos untuk selalu menghindari matahari juga kurang tepat. Dokter kulit menyarankan untuk melindungi kulit dari paparan sinar matahari yang ekstrem, bukan untuk selalu menjauhinya.
Pergi keluar rumah dan terkena sinar matahari sebenarnya sah-sah saja selama melakukan cara yang tepat dengan menggunakan sunscreen, kacamata hitam, atau topi.
Kebutuhan paparan sinar matahari juga tidak selalu sama untuk setiap orang. Hal ini tergantung dengan lokasi tempat tinggal, warna kulit, usia, riwayat kesehatan, dan pola makan seseorang.
Mengutip dari WebMD, umumnya terkena paparan sinar matahari selama 5 sampai 15 menit per hari sudah bisa memberikan dampak positif bagi tubuh.
Dampak jarang terkena sinar matahari
Kurangnya paparan sinar matahari bisa dialami oleh siapapun. Ada orang yang lebih sering di dalam ruangan karena pekerjaan, memiliki keterbatasan untuk beraktivitas di luar rumah, atau tinggal di wilayah dengan durasi siang yang lebih singkat.
Apabila terjadi secara rutin setiap harinya, kesehatan tubuh bisa terganggu karena kurangnya paparan sinar matahari. Berikut adalah beberapa efeknya.
Vitamin D yang dihasilkan oleh matahari bisa membantu sistem kekebalan tubuh memproduksi protein yang bisa melawan patogen penyebab penyakit. Tubuh yang kekurangan vitamin D bisa menurunkan fungsi kekebalan tubuh. Hal ini bisa membuat tubuh rentan infeksi seperti flu, pilek, dan penyakit lainnya.
Mengutip dari The Healthy, kurangnya paparan sinar matahari bisa mengganggu ritme sirkadian atau jam biologis tubuh yang mengatur siklus tidur dan bangun. Efeknya adalah saat di siang hari tubuh akan mudah lelah lalu di malam hari tidur kurang berkualitas, bahkan bisa memicu insomnia.
Kekurangan sinar matahari bisa membuat otot dan tulang menjadi nyeri. Vitamin D bisa mendorong tubuh menyerap kalsium dan mineral yang berfungsi untuk menjaga kesehatan tulang. Dalam jangka panjang, minimnya vitamin D bisa menyebabkan osteoporosis atau pengeroposan tulang.
Kekurangan vitamin D bisa menurunkan produksi energi di dalam sel yang membuat kekuatan otot menjadi melemah. Kondisi ini membuat tubuh menjadi lelah sehingga energi untuk berolahraga atau melakukan aktivitas fisik menurun. Kurangnya gerakan tubuh bisa membuat berat badan berpotensi naik.
Mengutip Mayo Clinic, kurangnya sinar matahari bisa menurunkan kadar serotonin yang merupakan zat kimia di otak untuk mengatur suasana hati. Kadar serotonin yang rendah bisa memicu depresi bagi sebagian orang.