Susuhunan Pakubuwana I menandatangani penyerahan seluruh wilayah Priangan Barat kepada VOC sebagai kompensasi atas bantuan militer dalam Perang Suksesi Jawa.
Sejak tinta pada lembaran traktat itu mengering, Sukabumi resmi dipatok masuk ke dalam mandala Preanger Regentschappen di bawah kendali langsung Batavia.
Rantai Pegunungan Halimun berdiri kokoh membentengi batasnya di sisi barat, sementara lereng Gunung Salak memisahkannya dengan Karesidenan Buitenzorg di utara. Dari sinilah pintu menuju pembukaan perkebunan kopi massal mulai terbuka lebar.
Setelah batas teritorial terkunci, lanskap Sukabumi mengalami perombakan besar-besaran akibat komoditas kopi. Catatan sejarawan Dr. F. de Haan dalam Priangan: De Preanger-Regentschappen onder het Nederlandsch Bestuur tot 1811 (1910) mencatat kawasan ini sebagai pilar utama sistem tanam paksa kopi (Preangerstelsel) oleh VOC.
Bibit kopi Arabika yang dibawa dari Malabar pertama kali ditanam di Jawa pada akhir abad ke-17. Lereng vulkanis Gunung Gede-Pangrango dan Salak terbukti menjadi habitat paling ideal. Memasuki dekade 1710-1720-an, belantara di Gunung Parang dan Cimahi dibuka menjadi hamparan kebun kopi massal.
Komoditas inilah yang memecah keheningan rimba Priangan barat. Kopi Sukabumi diangkut menuju pelabuhan Batavia dan menjelma menjadi primadona ekspor dunia di bawah bendera ternama "Java Coffee".
Memasuki awal abad ke-19, saat kendali beralih ke administrasi Inggris di bawah Thomas Stamford Raffles, lahan-lahan perkebunan mulai dijual sebagai tanah partikelir (land). Kawasan perkebunan kopi yang kala itu bernama Tji-kole dibeli dan dikembangkan oleh Andries de Wilde, seorang ahli bedah Belanda yang beralih profesi menjadi pengusaha perkebunan.
Dalam catatannya yang dicetak di Amsterdam pada 1830, De Preanger-Regentschappen, op Java gelegen, tertera surat bersejarah tertanggal 13 Januari 1815. De Wilde berkirim surat kepada otoritas kolonial untuk meresmikan penamaan tanah perkebunannya menjadi Soekaboemi.
Diambil dari bahasa Sanskerta yang merefleksikan tempat yang sejuk dan disukai untuk bermukim, nama perkebunan kopi rintisan De Wilde inilah yang kelak melesat di peta resmi dan menggantikan penyebutan Cikole.
Inilah episentrum waktu dari perayaan hari ini. Tepat 156 tahun yang lalu, pada 10 September 1870, pemerintah Hindia Belanda menerbitkan dokumen hukum bersejarah: Staatsblad van Nederlandsch-IndiΓ« No. 121 Tahun 1870 tentang Reorganisasi Karesidenan Priangan.